Rabu, 13 Desember 2017

Pengalaman Backpaker Ke Dieng


Tulisan ini sebenarnya sudah lama ingin di posting, hanya saja berhubung kesibukan persiapan skripsi jadi sempat ditunda sekian lama.  Baru kemudian ketika membuka catatan-catatan lama berulah menemukan lagi tulisan yang sudah sempat terbengkalai hehehe,,, Kali ini saya ingin membagikan cerita mengenai pengalaman menjelajahi Dieng-“Negeri Diatas Awan”.


Pengalaman Backpaker Ke Dieng
Selpi Bentar di Dieng

Mengapa saya memutuskan untuk ke Dieng? Entahlah ilham itu tiba-tiba muncul begitu saja. Dulu sewaktu bersekolah di Manggarai, Flores-NTT, nama “Dieng” muncul dari dalam buku sejarah peradaban hindu-Budha. Tidak pernah sekalipun tersebersit kepikiran akan mencoba “Backpaking” ke Dieng. Hingga sekitar pertengahan Juli kemarin ketika membaca sebuah artikel di Instagram tentang candi Arjuna langsung Fix saya memutuskan untuk “Backpacking sendirian ke Dieng!!!”.

Woke up in London yesterday, Found myself in the city near Piccadilly
Don't really know how I got here, I got some pictures on my phone

New names and numbers that I don't know, Address to places like Abbey Road
Day turns to night, night turns to whatever we want, We're young enough to say

 One Republic- Good Life

Persiapan Backpaking ke Dieng

Persiapan perjalanan ke Dieng pun dimulai, setelah searching sana-sini berbekal informasi dari orang yang pernah ke sana dimulailah persiapan Orang Manggarai ke Dieng. Jika dulu sewaktu masih bersekolah di Flores menjelajahi hutan, pantai dan gunung di Flores kali ini mencoba pengalaman yang sedikit berbeda.  Seperti biasa sebelum melakukan perjalanan corat-coret diatas kertas pun dimulai. Hal ini memang hal yang terkesan sepele namun sangat penting!!! Banyak para backpacker pemula yang menyangka bahwa membuat “List” diatas kertas merupakan hal yang kuno, namun jika tidak dilakukan dapat berakibat “fatal” bro.

Hal yang ditulis semisal estimasi biaya perjalanan, jalur dan alternatif jalur yang akan di tempuh, waktu yang paling tepat, penginapan, konsumsi, dan tempat tujuan.  Satu hal yang paling penting juga, mungkin ini pertanyaan bersifat “Reflektif”, Efek dulu sering serafik di Yogyakarta sewaktu masih di Fransiskan. “Apa tujuan kamu ke Dieng?” Jika kesana hanya untuk menghiasi Instagram dan wall facebook itu sama halnya dengan membuang-buang biaya!

Pernah suatu ketika pertanyaan yang sama saya ajukan ke salah seorang sahabat dari Jerman, “Apa tujuan kamu ke Indonesia? Dia menjawab bahwa ia ingin belajar dari penduduk,sejarah, warisan budaya, dan masyarakat Indonesia. Hal yang sama saya terapkan juga ketika bertandang ke Dieng. Beberapa artikel tentang Dieng saya perdalam mengenai sejarah candi-candinya, budaya dan juga masyarakatnya.

Rute Backpaking Ke Dieng

Setelah semua list dibuat dan pada hari-hari terakhir persiapan berangkat ke Dieng ternyata adik saya yang cewek memutuskan untuk ikut!! Busyet!! Ya mau gmana lagi akhirnya dua buah tiket dipersiapkan untuk keberangkatan ke Dieng. Adapun rute yang diambil adalah Senen-Purwokerto-Wonosobo-Dieng . Kami berangkat dari Senen sore hari jam 7 karena memang janjian di stasiun senen, beruntungnya adik yang saya panggil “Oneng” bisa datang jam 6 sore. Setelah sempat makan akhirnya kami masuk ke dalam stasiun senen untuk siap-siap berangkat ke Dieng. Tidak menunggu lama kereta yang akan kami tumpangi menuju Purwokerto datang tepat pada waktunya.

Sengaja dari awal saya memilih kereta Ekonomi dengan pertimbangan pagi hari akan sampai di Stasiun Purwokerto. Berhubung kereta ekonomi dan posisi duduknya berhadapan dengan penumpang lain maka waktu perjalanan itu saya pakai untuk berbicara dan berkenalan dengan penumpang yang berhadapan langsung dengan kami.

Nah, disinilah indahnya backpacking, yaitu kita bisa bertemu dan berkenalan dengan begitu banyak orang baru yang akan kita jumpai sepanjang perjalanan. Mereka adalah sepasang suami-istri yang akan liburan ke kampung istrinya di Purwokerto, sepanjang perjalanan sang bapak banyak memberikan nasehat-nasehat yang sangat berguna untuk yang masih belum menikah seperti saya ini heehhehe.

Di kereta sendiri ada beberapa penumpang yang sekilas terlihat menggunakan tas backpacker besar dan bertampang rombongan mahasiswa. Saya dan Oneng sendiri sudah curiga dari awal bahwa sepertinya mereka juga memiliki tujuan ke Dieng juga. Ada sekitar empat rombongan yang berbeda. Bukan apa-apa keseringan membaca dan menonton Sherlock Holmes dan film bergenre Spy  berlatar perjalanan di kereta api semisal film Source Code mengajarkan untuk membaca gelagat dan karakter orang wkwkkwk.

Bersambung….

Selasa, 12 Desember 2017

Suka Duka Kuliah di Unpam



Kali ini saya akan sedikit menulis mengenai pengalaman menjalani tahun-tahun kuliah di Unpam. Sebagai orang Manggarai perantauan yang mencoba mencari ilmu di ibukota tentunya mengeyam pendidikan merupakan sesuatu yang sangat didambakan. Awalnya saya sempat ragu, betapa tidak? Ada banyak pertanyan yang bermunculan di kepala. Apakah saya bisa bekerja sembari kuliah di Jakarta? Apakah gaji saya cukup untuk membiayai kebutuhan hidup dan juga membiayai kuliah? Apakah saya dapat beradaptasi dengan situasi kuliah di Jakarta sedangkan saya sendiri  berasal dari daerah antah-berantah yang ada komodonya?

 
Kampus Universitas Pamulang
Kampus Universitas Pamulang

 
Terlebih jika memikirkan mengenai jurusan apa yang akan diambil. Hingga saya memutuskan untuk mengambil Jurusan Teknik Informatika. Ada beberapa pertimbangan; Pertama; ada banyak Kampus menyediakan Jurusan Teknik Informatika, Kedua; Rata-rata biaya Jurusan Teknik Infomatika cukup terjangkau. Namun pertanyaan intinya belum terjawab. Apakah ada kampus yang menyediakan kelas khusus untuk karyawan dengan waktu kuliah yang cukup fleksibel untuk barista seperti saya? Mengenang masa-masa sulit seperti itu kadang saya ingat perkataan seorang sahabat “Kita bukan anak Orang Kayahhhh!!!”

If you're lost and alone Or you're sinking like a stone
Carry on!!!
May your past be the sound of your feet upon the ground
Carry on!!
Cause we are We are shining stars
We are invincible, We are who we are
On our darkest day, When we're miles away
So we'll come, we will find our way home 

Fun; Carry On

Setelah kesana kemari mencari informasi mengenai kampus saya sempat frustrasi karena hampir semuanya tidak cocok baik dari segi biaya maupun dari segi waktu kuliah.  Setres? Saya bilang; “Amat sangat stress” Puji Tuhan akhirnya Doa saya terjawab. Pada awal tahun 2012 salah seorang rekan kerja memberitahukan mengenai kampus yang kelasnya hanya hari Sabtu. What??!! Awalnya saya sama sekali tidak percaya berhubung sebelumnya sempat terjebak di kampus abal-abal (Sad Story). Tetapi kemudia rekan saya tersebut mendukung dan toh karena dia juga sudah mendaftar di kampus itu. Saat itu dia cuman berujar agar mencari informasi mengenai kampus Unpam.

Sedikit Informasi Mengenai Kampus Unpam

Unpam; merupakan singkatan dari Universitas Pamulang. Kampus Unpam beralamat di Jl. Surya Kencana No.1, Pamulang Barat, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten.  Gedungnya sendiri cukup megah dan besar dan dapat kelihatan dari kejauhan. Sekitar tahun 2014an kalo nga salah Unpam mulai memakai gedungnya yang di Viktor, atau lebih dikenal dengan Unpam Viktor. Lokasi Unpam Viktor sendiri di Jalan Puspitek No.23, Buaran, Serpong, Buaran, Serpong, Kota Tangerang Selatan.

Untuk Kampus Unpam Pamulang lebih cocok melalui jalur Pondok Indah-Lebak Bulus, setelah Lebak Bulus, tinggal lurus aja ikutin jalan kurang lebih 5 KM. Sedangkan untuk kampus Unpam Viktor sendiri sebenarnya hanya berjarak 5 Km dari kampus Unpam Pamulang. Saya sendiri kalo ke Unpam Viktor lebih sering mengambil jalur Mall Teras Kota Tanggerang, toh karena saya pagi-pagi harus dari Jakarta Utara.


Kuliah Kelas Karyawan Hari Sabtu

Banyak yang bertanya “Memangnya kuliah hari sabtu di Pamulang nga Kejauhan?” Jujur saja buat saya ini adalah pertanyaan yang diajukan oleh orang yang jarang touring hari sabtu. Saya sendiri begitu menikmati perjalanan dari Jakarta Utara ke kampus Unpam pada hari sabtu pagi. Betapa tidak?. Hari sabtu pagi jam 6 jalanan Jakarta begitu bersahabat. Jalanan sangat lancar dan kendaraan masih sepi. Saya bahkan bisa melaju dengan kecepatan hingga 80 Km/jam, suatu hal yang hampir mustahil dilakukan di jalanan Jakarta pada hari-hari biasa.

Betapa saya menikmati “Touring” hari sabtu pagi sambil ditemani lagu-lagu cadas tahun 80an untuk menambah semangat. AC/DC; “Thunderstruk, High way To Hell, Black In Black” atau kadang lagu-lagu Michael Learns To Rock, Coldplay, Guns N’ Roses, Jonsi, FUN,. Tergantung suasana hatilahh..

Mungkin bagi sebagian orang ini hal yang sedikit “Nekat” memutuskan untuk memilih kampus sejauh itu. Tetapi bagi saya ini merupakan pengalaman yang menarik. Kadang sepanjang perjalanan saya menemukan begitu banyak ide untuk memecahkan masalah yang sering bikin kepala mumet. Kadang dalam perjalanan tersebut saya sadari seseorang pernah berkata bahwa Kita ini hanyalah “Peziarah dan Perantau di Dunia ini”.

Bersambung….

Sabtu, 23 September 2017

Asal-Usul Nama Manggarai Jakarta

Asalmula Nama Manggarai Jakarta



Manggarai.news... Banyak pihak yang bertanya-tanya apa hubungan antara Manggarai Jakarta dan Manggarai Flores? Saya pun sempat berpikiran sama. Bahkan sebagian orang berpendapat bahwa nama Manggarai di Flores diambil dari nama Manggarai di Jakarta. Namun berbekal beberapa pencarian mendalam rupanya nama Manggarai Jakarta memiliki sejarah yang cukup kelam terutama mengenai perbudakan pada masa kolonial Belanda.


Perbudakan di Manggarai


Jika melihat ke belakang tentang sejarah perbudakan di Manggarai ada beberapa sumber yang menjelaskan mengenai hal tersebut, sumber lisan dan juga sumber tertulis. Tentunya sumber tertulis memiliki keakuratan sejarah yang jauh lebih baik daripada sumber lisan. Namun pada faktanya sumber lisan yang diwariskan secara turun-temurun tidak dapat dikesampingkan. Kisah-kisah perbudakan tersebut juga dimasukan kedalam beberapa bentuk budaya baik lagu maupun peribahasa yang menjadi salah satu khazanah kekayaan budaya Mangarai.

Beberapa diantara kita mungkin pernah mendengar lagu Benggong? Salah satu lagu rakyat Manggarai. Ada banyak tafsiran atas makna lagu tersebut, salah satu tafsiran yang berkembang ialah bahwa lagu tersebut bercerita tentang perbudakan di Manggarai pada tempo dulu. Seperti yang ada dalam liriknya yang sarat akan makna kepedihan. Bahwa kemudian mereka akan diambil untuk dijual atau dijadikan upeti.

Mungkin ada diantara kita pernah mendengar istilah Rewung Taki Tana. Istilah Manggarai ini mengacu pada fenomena alam di Manggarai yang terjadi pada periode Juni-September dimana kabut menyelimuti seluruh area hingga ke permukaan tanah dan jarak pandang menjadi sangat pendek. Biasanya jika fenomena Rewung Taki Tana ini terjadi para orangtua melarang anak-anak bepergian atau bermain ke luar rumah. Hal ini erat kaitannya dengan sejarah Manggarai dimana pada saat kabut sering terjadi penculikan terhadap anak kecil (dan juga orang dewasa) yang nantinya akan dijual untuk dijadikan budak (wendo ata te taki mendi laing)

Ada beberapa sumber tertulis yang mencatat mengenai peristiwa perbudakan di Manggarai. Richard B. Allen dalam salah satu jurnal yang berjudul European Slave Trading in the Indian Ocean, 1500–1850 mencatat:

Tercatat bahwa pada periode 1620 hingga tahun 1830, Bali dan Pulau-pulau di sekitarnya diperkirakan mengeksport 100.000 hingga 150.000 budak. Beberapa tempat lain di Indonesia dan kepulauan Filipina seperti Alor, Buton, Manggarai, Mindanao, Sulu, Tawi-Tawi dan pulau Timor mengkonsentrasikan para budak di Makasar yang mana kemudian mereka diberangkatkan ke pasar budak besar seperti Aceh (Banda Aceh), Banjarmasin, Jambi, Palembang, dan Sukadena bahkan hingga Ayudhya di Thailand. Dimana kemudian para budak-budak tersebut setelah di beli dikirim oleh orang-orang Eropa ke India yang kemudian di berangkatkan melintasi samudra atlantik ke Amerika yang kemudian mereka dapat kembali bebas dengan berbagai alasan. Bahkan selama peperangan besar di Amerika orang Belanda membawa begitu banyak budak dari India ke Amerika untuk kepentingan peperangan.

Manggarai sebagai Pasar Budak


Rachmat, penulis buku "Asal-usul Nama Tempat di Jakarta" mengamini bahwa nama "Manggarai" di Jakarta sejatinya berasal dari para budak-budak yang diangkut dari Manggarai- Flores Barat sekitar tahun 1770. Alwi Shahab sejarahwan Jakarta juga membuat pernyataan yang sama bahwa tempat yang sekarang bernama Manggarai di Jakarta dulunya adalah pasar budak-budak yang dibawa dari Flores Barat. Hal ini erat kaitannya dengan Menteng Burt (Lingkungan Menteng) tempat tinggal para orang kaya Belanda pada Zaman kolonial. Di Manggarai Jakartalah tempat mereka membeli para budak untuk dijadikan Jongos dan Bedinde.

Budak-budak tersebut menamai tempat mereka dengan nama Manggarai, sebagai pengikat akan kenangan mereka dengan Tanah Kuni Agu Kalo (Tanah Tumpah Darah). Dari sini kita dapat belajar banyak hal. Sekalipun harga diri mereka direndahkan selayaknya binatang dan kemudian di perjual belikan, namun kenangan dan kebanggaan mereka kepada Manggarai sebagai tanah tumpah darah tidaklah pernah pudar. Walaupun mereka tersebar dan terpisah jauh melewati pulau bahkan benua dalam hati kecil mereka selalu tercatat bahwa mereka selalu mencintai tanah leluhur mereka "Manggarai, Nuk de Nai tana bate dading!".





Senin, 18 September 2017

Bupati Manggarai 2018?




Manggarai.news...Menarik menyimak perkembangan Manggarai akhir-akhir ini. Satu persatu para kandidat yang akan maju ke kancah pertarungan politik Manggarai 2018 mulai melakukan pendekatan-pendekatan yang dibutuhkan dalam mencapai kursi kepemimpinan tertinggi di kabupaten Manggarai.

Mengapa kemudian ini ditulis? Hubungannya? Siapapun yang kemudian menjadi orang nomor satu di kabupaten Manggarai secara langsung dan tidak langsung memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi kemajuan dan menentukan roda Manggarai selama lima tahun kedepan.

Baca Juga: Asal-Usul Manggarai

Tentu saja hal ini berpengaruh besar terhadap kelestarian peninggalan Sejarah, serta bagaimana sang orang Nomor satu tersebut melestarikan Budaya Manggarai yang sangat kaya. Namun meskipun demikian ada beberapa "Pekerjaan Rumah" yang dirasa sangat penting dibereskan oleh sang Pemimpin Manggarai yang terpilih pada tahun 2018. 


Mengembangkan Sarana dan Prasarana Manggarai


Hal ini tentunya akan menentukan perkembangan dan pergerakan roda ekonomi di kabupaten Manggarai. Sarana dan prasarana tentunya sangat dibutuhkan mengingat kabupaten Manggari memiliki topografi yang berbukit-bukit dan sebagaian wilayahnya memiliki curah hujan yang sangat tinggi.

Sarana dan Prasarana yang dimaksud yaitu Jalan raya, sarana komunikasi (pengadaan Internet) bagi masyarakat umum, sarana transportasi umum yang memadai, sarana dan prasarana listrik bagi masyarakat manggarai yang masih 50 %  penduduk wilayahnya tidak menikmati listrik. Sarana dan prasarana pendidikan dan masih begitu banyak sarana dan prasarana yang harus dikembangkan oleh orang nomor satu di Manggarai yang terpilih pada tahun 2018.


Mengembangkan Pertanian di Manggarai


Patut disadari bahwa Manggarai memiliki potensi pertanian yang cukup menjanjikan. Namun sangat disayangkan bahwa pemerintah dalam hal ini tidak memberikan andil yang cukup berarti bagi pengembangan pertanian di Manggarai. Kabupaten Manggarai memiliki potensi yang berbeda dengan dua saudaranya yang masih muda (Manggarai Barat dan Manggarai Timur) Karena Manggarai sangat cocok dikembangkan berbagai varietas tanaman untuk dataran tinggi yang subur, sebut saja Kopi, cengkeh, vanili, berbagai jenis sayuran dan pisang.
Di beberapa tempat di Kabupaten Manggarai telah dikembangkan metode pertanian organik yang dimulai oleh para Biarawan Fransiskan (OFM), semisal di Pagal. Hal ini menjadi salah satu contoh bahwa Manggarai kedepannya jika dikelola dengan baik menghasilkan berbagai tanaman berkualitas eksport yang patut diperhitungkan. Selain itu perlu dikembangkan lagi kearifan lokal dalam mengembangkan saran pertanian. Karena telah terbukti bahwa kearifan lokal masyarakat Manggarai berhasil mendatangkan pengaruh yang sangat besar bagi Masyarakat Manggarai itu sendiri, Contohnya adalah persawahan Cancar.


Mengembangkan Pendidikan dan Kesehatan


Ruteng sebagai ibukota kabupaten Manggarai sudah sejak lama dikenal sebagai kota pelajar bagi seluruh Manggarai Raya. Karena di Ruteng telah terdapat beberapa sekolah yang dikenal cukup baik dalam mendidik para anak didiknya. Namun sangat disayangkan bahwa fasilitas yang disediakan pemerintah belum cukup untuk menampung keseluruhan kebutuhan para pelajar di Ruteng. Sebut saja perpustakaan Umum dan sarana teknologi Informasi dan komunikasi di Ruteng yang jauh dari kesan bersahabat untuk mendukung kebutuhan para pelajar.

Sejak lama kota Ruteng sendiri telah menjadi telah tempat berobat bagi seluruh masyarakat Manggarai Raya. Rumah Sakit Umum Daerah Ruteng dan juga Rumah Sakit Umum Cancar. Fasilitas pendukung sarana kesehatan sangat diperlukan demi terciptanya Masyarakat Manggarai Raya.


Mengembangkan Sektor Pariwisata Manggarai

Waerebo yang terletak di kabupaten Manggarai telah dikenal luas oleh Masyarakat Internasional dan Nasional sebagai destinasi pariwisata yang wajib dikunjungi. Ini membuktikan bahwa khasanah kekayaan budaya Manggarai berhasil menarik minat wisatawan mancanegara dan bahkan mendatangkan keuntungan yang tidak kecil. Hal ini menjadi kekuatan besar yang sudah sewajarnya dimanfaatkan dan dikembangkan dengan baik oleh pemerintah kabupaten Manggarai dengan mengembangkan sarana dan prasarana pendukung. Selain itu juga sebagai sarana untuk mempromosikan wisata kabupaten Manggarai lainnya yang sebenarnya tidak kalah jauh menarik dari Kampung adat waerebo, semisal Gua Arkeologi Liang Bua, Pantai di wilayah Reo dan Satarmese, wilayah persawahan Cancar dan masih banyak lagi tempat-tempat pariwisata lainnya.

Sabtu, 16 September 2017

Asal-Usul Manggarai



Manggarai.news...Beberapa orang sering bertanya-tanya mengenai asal-usul nama Manggarai. Bagi orang yang sama sekali awam tentang sejarah tentunya hal ini cukup membingungkan. Karena ada dua tempat yang memiliki kesamaan nama; dalam hal ini Manggarai yang adalah salah satu kabupaten di Provinsi NTT dan juga Manggarai yang berada di Jakarta.

Yang Membuat hal ini semakin buruk ialah adanya salah pandangan bahwa Manggarai Jakarta lebih dahulu usianya dibandingan dengan Manggarai yang berada di pulau Flores. Bukan sekali duakali malah seringkali hal ini ditemukan. Walaupun demikian terlepas dari adanya dua tempat yang memiliki kesamaan nama, dua tempat ini sejatinya memiliki hubungan sejarah yang sangat unik. Sejarah dua Manggarai dari sudut pandang sejarah. Mengenai asal usul Nama Manggarai Jakarta akan dimuat pada tulisan selanjutnya.

Manggarai; merupakan salah satu kabupaten yang terletak di sebelah barat pulau flores Nusa Tenggara Timur. Dulunya merupakan satu kabupaten besar kemudian demi kelancaran administrasi kemudian wilayah Manggarai Timur dan Wilayah Manggarai membentuk kabupaten masing-masing dengan nama kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Manggarai Barat. Hal menarik dari peristiwa tersebut adalah bahwa kedua kabupaten ini tetap menyematkan nama Manggarai sebagai tanda identitas; identitas budaya yang sudah mendarah daging.


Studi mendalam tentang asal-usul nama Manggarai dilakukan oleh salah seorang budayawan dan sejarahwan asal Manggarai Dami N. Toda yang juga beliau meneliti tulisan-tulisan para peneliti terdahulu seperti Pater Jilis A. Verheijen.SVD sang pionir Homo Florensiensis. Dalam buku-buku yang beredar di sekolah-sekolah ditulis bahwa Manggarai berasal dari dua suku kata bahasa Bima Mangga yang berarti "Sauh" dan kata "Rai" yang berarti Putus. Hal ini terjadi saat ekspansi kerajaan Bima yang dipimpin oleh panglima kerajaan Bima Mangga Maci didampingi tiga saudaranya (Nanga Lere, Tulus Kuru, dan Jenaili-Woha)  ke wilayah Manggarai. Saat ekspansi tersebut pasukan Cibal yang menguasaai pelabuhan Kedindi (Reo) menyerang dan memutus tali sauh Kapal Mangga Maci. Mangga Maci pun berteriak Manggarai!!! (arti harafiahnya "Sauh Putus!!!!").

Dami N. Toda menolak bahwa nama Manggarai berasal dari suku kata bahasa Bima. Dami berpendapat bahwa nama Manggarai sudah ada jauh sebelum ekspansi Kerajaan Bima ke Manggarai. Dengan bukti bahwa:

  1.  Menurut naskah Achmad/Held pelayaran Kerajaan Bima berlansung pada bulan Maret 1845 dengan tujuan pelabuhan Kedindi (Reo) yang dipimpin oleh Jurubicara Bima Muhammad Yakub dan Bumi Luma Rasanae dengan tugas utama untuk memanggil Naib Reo (penguasa wilayah Reo) dan Naib Pota (penguasa wilayah Pota) dengan tugas tambahan membawa serta  “tatarapang” (keris tanda kekuasaan). Dan naas saat berlabuh di pelabuhan kedindi (tercatat tanggal 20 Maret 1845 iringan kapal tersebut terkena hempasan angin barat daya yang sangat kencang. Hal ini menimbulkan kepanikan namun tidak tercatat adanya teriakan Manggarai!!! dalam peristiwa tersebut.
  2. Manggarai di Jakarta sendiri sudah berada sejak tahun 1770 ( Rachmat; penulis buku "Asal-usul nama tempat di Jakarta). Tentu saja umurnya jauh lebih tua dari ekspedisi kerajaan Bima ke Manggarai.


Dami N. Toda berpendapat bahwa Nama Manggarai sudah ada lebih tua sebelumnya. Beliau mengangkat salah satu peristiwa pada tahun 1626 yang dicatat oleh seorang Belanda. saat itu penguasa Rinca menerima kedatangan seorang Raja Kerajaan Tallo yang bernama Mangarangi. Saat peristiwa tersebut penguasa Rinca mengakui Mangarangi sebagai Raja dan penguasa Rinca sebagai Wakil, semenjak itulah wilayah flores bagian barat disebut Manggarai.


Tentu saja masih dibutuhkan penelitian mendalam tentang asal-usul nama Manggarai, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa penelitian dan tulisan Dami N. Toda sejauh ini merupakan salah satu penelitian yang paling bisa dipakai. Hal ini sangat penting dilakukan agar menambah wawasan budaya kita tentang Manggarai.