Kamis, 19 September 2013

Doctor Mirrabilis itu Bernama Jilis A.J. Verheijen, SVD (1908-1997)

     Hanya sedikit orang yang mengetahui karya-karya Pater Jilis Verheijen SVD (beberapa literatur menulis "Verhoeven SVD"), terlebih lagi sumber informasi tentang beliau dalam bahasa Indonesia amat sangat terbatas. Hal ini sangat tidak sebanding dengan besarnya perannya bagi kebudayaan Mangarai dan juga sumbangsihnya bagi kekayaan hayati di Indonesia
      Sekitar tahun 2000an seluruh dunia heboh dengan ditemukannya fosil manusia purba dari flores atau dikenal dengan nama Homo Florensiesis atau dikenal juga dengan nama Hobbit flores. Fosil ini mencuri perhatian dunia selain karena bentuknya yang sangat tidak biasa dari fosil manusia purba lainnya, fosil ini juga diyakini sebagai salah satu mata rantai penting dari sejarah evolusi manusia. Namun dari semuanya ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri dari proses penemuan hobit ini yaitu peran seorang Jilis Verheijen SVD yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia adalah pionir pertama penelitian penelitian Homo Florrensiesis di Liang Bua, bahkan pionir pertama penelitian kepurbakalaan di seluruh daratan flores. Adapun penelitian pada tahun 2000an itu hanya melanjutkan penggalian yang telah dilakukan oleh pater Verheijen SVD.

Pater Verheijen (kanan) sedang melakukan penelitian fosil di Flores


           Jika kita berbicara tentang kebudayaan Manggarai, akar-akar, sejarah dan lainnnya ada dua tokoh penting pakar kemanggaraian yang sangat hebat yang menjadi patokan, dua orang murid dan guru, adalah Jilis verheijen seorang missionaris SVD dan Dami N Toda sang Murid seorang sejarahwan dan masih banyak gelar lain yang seharusnya disematkan kepada dua orang ini atas jasa-jasa mereka dalam meneliti tentang akar budaya dan kekayaan Manggarai. Saya sendiri telah sekilas melihat buku karya Dami N Toda yang berjudul "Manggarai mencari pencerahan historiografi", buku ini sangat lengkap mengulas tentang sejarah manggarai untuk melenkapi penelitiannya Dami N Toda meneliti hingga arsip-arsip peninggalan Belanda dan kepustakaan Kerajaan Bima serta menyertakan di dalam bukunya ini. Boleh dibilang inilah mahakarya seorang Alm. Dami N Toda.
         Adapun kali ini saya mengulas tentang tokoh Verheijen yang sangat saya kagumi kepribadiannya. Saya mengambil sumbernya dari Colin Trainor and JeF Veldkamp, dua peneliti kebudayaan manggarai dan juga saya sarikan dari beberapa tulisan yang pernah dimuat di Majalah Kompas sedangkan ada sebuah biografi tentang Verheijen yang sampai saat ini saya anggap yang terbaik yaitu karangan Pater Jhon Dami Mukese, SVD tentang Pater Jilis Verheijen, SVD dalam bukunya berjudul “Indahnya jejak kaki mereka (Misionaris-misionaris SVD yang pernah berkarya di Flores)” terbitan Nusa Indah Ende Flores.


P. Verheijen SVD dalam penelitian Gaja

                         
Jilis Verheijen SVD
       Verheijen, Jilis Antonius Josephus. Lahir di Zevenaar, Belanda pada tanggal 26 maret 1908 dan wafat di Teteringen Belanda pada tanggal 25 April 1997 pada usia 89 tahun. Dia mengabdikan diri sebagai missionaris di Manggarai, flores, Nusa Tengara Timur selama 58 tahun (1935-1993). Resminya, dia adalah pengajar Bahasa Latin dan Yunani di Seminari Mataloko di Kabupaten Ngada Sebagai seorang Misionaris Katolik dari Kongregasi Societas Verbi Divini (atau disingkat SVD) Pater J. Verheijen diutus menjalankan misi pada tahun 1935 dimana ia ditempatkan di Ruteng dan di Seminari Menegah Mataloko. Selama sekitar 17 tahun bertugas mengajar, Verheijen juga meletakkan dasar-dasar penting penelitian arkeologi di Flores.
       Dia belajar Sejarah Klasik dan Arkeologi di University of Utrect, Belanda, kemudian melanjutkan studi dalam bidang sejarah klasik di Univeristy of Leiden, Belanda. Penelitian masternya adalah tentang ekskavasi Pompeii, sebuah kota zaman Romawi kuno yang hancur akibat letusan gunung dan terkubur sampai kemudian digali oleh para peneliti.
      Fachroel Aziz dan MJ Morwood dalam Geology Palaeontology and Archaelogy of The Soa Basin, Central Flores, Indonesia (2009) menyebutkan, minat Verheijen meneliti jejak arkeologi di Flores bermula tahun 1950-an. Awalnya, Verheijen penasaran dengan penemuan tulang-belulang yang sangat besar oleh Raja Nagakeo di Boawae tahun 1957. Tulang tersebut muncul akibat erosi di sebuah kampung Ola Bula, Kabupaten Ngada. Verheijen kemudian mengenali bahwa tulang tersebut adalah fosil stegodon (gajah purba).
    Hal itu mendorong Verheijen untuk lebih serius merintis penelitian kehidupan purba di Flores. Dia lantas melakukan penggalian besar di Ola Bula dan menemukan fosil stegodon. Sebagai alternatif, dia juga mengembangkan penelitian di Cekungan Soa, Kabupaten Ngada.
     Tahun 1963, Verheijen kembali menggali di Mata Menge dan Boa Lesa, sekitar 3,5 kilometer dari Ola Bula. Di dalam dua situs itu, ditemukan fosil stegodon dan artefak batu. Tahun 1968, peneliti ini menyimpulkan, stegodon dan manusia purba telah ada di Flores. Entah bagaimana caranya, binatang dan manusia itu sampai di pulau tersebut. Verheijen bersama koleganya, Pater Johannes Maringer, mengungkapkan hasil penelitian beserta bukti-buktinya di beberapa jurnal Anthropos. Bukti-bukti itu diabaikan oleh peneliti arkeologi mapan karena mereka meragukan identifikasi artefak batu itu. Muncul juga anggapan, Verheijen termasuk peneliti amatir.
      Meski begitu, peneliti paleontologi dan pengajar di Utrecht University, Paul Sondaar, dan peneliti Pusat Survei Geologi Bandung, Fachroel Aziz, tertarik untuk menelusuri temuan Verheijen. Pada awal tahun 1990-an, keduanya dan beberapa peneliti lain kembali menggali beberapa situs yang pernah diteiliti Verheijen, yaitu Mata Menge dan Tangi Talo. Mereka menemukan fosil stegodon, kura-kura raksasa, dan komodo yang diperkirakan berusia sekitar 900.000 tahun lalu (Tangi Talo) dan 730.000 tahun lalu (Mata Menge). Hingga kini, penelitian di Soa terus dilakukan oleh banyak peneliti dari Indonesia dan mancanegara, seperti Belanda atau Australia. Kajian yang dirintis Verheijen pada pertengahan tahun 1950-an itu ternyata menjadi modal penting untuk menguak tabir kehidupan purba di Flores.


Penemuan Verheijen yang disimpan di Museum Ledalero 

                         
Foto Penelitian Verheijen

                               
Foto Di Museum Flores

                Semenjak ditempatkan di Ruteng beliau memiliki ketertarikan tersendiri terhadap bahasa Manggarai yang menurutnya sangat unik, hal ini juga yang mengantarnya untuk mengumpulkan Mitos, sejarah, kisah, cerita rakyat, pantun, teka-teki dan kemudian mendokumentasikannya secara sangat baik sebagai sebuah laporan tersendiri. Sepanjang perang dunia II dia bersama hampir sebagian besar misionaris asing di Flores diinternir di Sulawesi. Setelah perang dunia II selesai ia memperluas jangkauan penelitiannya dan berhasil dengan sangat baik dalam mengkombinasikan ketertarikan ilmiahnya dengan tugas mulianya sebagai seorang misionaris katolik, dan pada tahun 1959 beliau menyelesaikan tugas pastoralnya. Pater Verheijen memiliki dan mengembangkan berbagai macam talenta sepanjang hidupnya; sebagai seorang Pastor yang baik, seorang anthropolog, seorang pengamat burung, seorang botani, dan seorang pengamat bahasa yang sangat tajam, serta sungguh sungguh mencintai dan menghayati kekayaan alam. Sekalipun beliau bukan seorang ornitholog namun beliau meninggalkan catatan yang sangat menakjubkan serta sangat lengkap tentang burung dan konservasi alam manggarai. Dia menulis berbagai paper tentang dokumentasi burung dan berbagai jenis flora dan fauna mencakup pulau Paloe di sebelah barat pulau Flores (verheijen pada tahun 1961, mencatat rekor sebagai ornitholog satu-satunya dan yang terbaik dari pulau ini) dan juga meneliti pulau Rote hingga pulau Timor (Verheijen pada tahun 1976, memiliki ketertarikan dan meneliti pulau ini seperti yang kemudian diteliti lagi oleh Jhonston dan Jepson pada tahun 1996 dalam penelitian terakhir mereka) dan tentu saja Verheijen telah meneliti seluruh pulau Flores. Verheijen memecahkan rekor mendokumentasikan, menemukan serta memberi nama ilmiah kepada lebih dari 2000an jenis flora dan fauna dari 103 spesies (Verheijen 1964), Verheijen sejauh ini meninggalkan banyak review meliputi juga catatan penelitiannya tentang kehidupan dan reproduksi burung di Wallacea. Verheijen bekerja sungguh bersama dengan Voous (1950) dan Hellebrekers dan Hoogerwerf (1967) dan inilah peneliatian terbaik tentang burung yang pernah dilakukan di Indonesia. Hasil karya Verheijen terlebih khusus tentan burung menjadi referensi dan penelitian utama oleh White dan bruce (1986), Coates dan Bhisop (1997) serta Verhoeye dan Holmes (1998). Verheijen sangat dihargai dan mendapat penghargaan karena mendeskripsikan dan menamai sejumlah besar flora dan fauna di Flores.




Oleh: Ntangis Waling



EmoticonEmoticon