Kamis, 19 September 2013

Gereja dan Panggilan Iman Kita

Gereja Katedral Ruteng
Souce @oland_pada
   


Di Indonesia gereja masih sangat muda. Tetapi sejak permulaan telah diusahakan dengan keras supaya gereja kita tidak selamanya tergantung kepada misionaris dari luar, melainkan menghasilkan pangilan-pangilan asli, baik untuk kehidupan membiara maupun untuk imamat. Agaknya perkembangan gereja di beberapa negara lain agak berbeda sehingga sampai belum lama ini mereka masih selalu mengharapkan bantuan tenaga imam dan biarawan dari luar dan kurang memperhatikan persiapan tenaga pribumi. Memang pada permulaannya setiap gereja lokal tergantung dari “luar” dan pertukaran tenaga antar gereja selalu akan dibutuhkan supaya gereja lokal tidak terlepas satu sama lain. Tetapi harus diusahakan supaya selekas mungkin gereja lokal mempersiapkan putera-putera asli untuk kehidupan membiara serta imamat, sebab merekalah yang boleh diharapkan lebih memahami persoalan-persoalan yang dihadapi Gereja di negerinya sendiri.
      Selanjutnya sekarang sudah tidak mungkin lagi kita menggantungkan diri dari misionaris-misionaris luar, sebab justru negara yang dulu mengirimkan banyak misionaris, sekarang mengalami krisis panggilan dan hampir-hampir tidak bisa lagi mencukupi kebutuhan mereka sendiri


                                         
         Krisis panggilan itu amat parah pada tahun-tahun 70-an. Krisis itu disebabkan oleh beberapa faktor:
  1. Di bidang kebudayaan: perubahan pola kebudayaan: perubahan sistem pendidikan, perubahan struktur keluarga.
  2. Di bidang gerejani : Kaburnya identitas para imam: menjauhnya kaum muda dari gereja; perubahan metode pendidikan calon imam dan rohaniwan, yang dinilai kurang dipertimbangkan secara matang.
  3.  Dari pihak kaum muda sendiri : Ketakutan untuk melibatkan diri secara tetap; prasangka buruk terhadap kehidupan imamat dan sebagainya.
         Dalam bulan Mei 1981 telah diadakan kongres internasional untuk membahas soal panggilan, yang dihadiri oleh kurang lebih 1.300 peserta, 150 di antaranya uskup-uskup. Setelah menganalisa faktor-faktor yang menyebabkan krisis itu yang telah disebut di atas, kongres itu menyatakan harapan baiknya untuk tahun-tahun selajutnya berdasarkan beberapa gejala baru:
  • Pembaharuan semangat komunitas paroki-paroki serta keluarga-keluarga.
  • Pengertian yang jelas tentang persoalan-persoalan pastoral
  • Latihan pastoral yang lebih baik
  • Didirikan komunitas-komunitas di mana panggilan-panggilan dapat berkembang.
       Persoalan dan pembahasan masalah di atas sekalipun telah lama berlalu namun masih relevan hingga saat ini. Hal ini menunjukan bahwa krisis panggilan maupun persoalan serta tantangan panggilan telah dihadapi sejak lama. ( Majalah Utusan, edisi April 1982:84) 



EmoticonEmoticon