Kamis, 19 September 2013

Lipooz : Lipootan Khusuzz (Session satu)

Molas Baju Wara and Ruteng is the City


        Ungkapan terampasnya kebebasan dalam berkreasi nampaknya masih sedikit banyak dibenarkan oleh beberapa pelaku dalam industri seni. Beberapa pasungan-pasungan dalam berkreasi masih menjadi kendala mereka untuk meluapkan ekspresinya walaupun sudah tidak sekeras beberapa tahun silam. Dalam bermusik pun entah sudah beberapa nama musisi yang harus merasakan dicekal. Dibunuh karyanya, hingga merasakan dinginnya hotel prodeo alias penjara akibat dari karyanya sendiri. Alih-alih ingin mendapatkan sebuah orgasme dalam berkarya malah harus menanggung hukuman yang diciptakan sendiri. Berikut ini hanyalah sebuah kisah kecilku dengan Lipooz rapper from Ruteng Clan, dari Ruteng is the City, Kisol is the seminary, yogya is never ending asia,Gedung DPR is Gangster Paradise, Pluit is City in the City dan Pacific Place is the Exclusive town.
                                   
Here I Come
          Sejak kecil saya suka mendengarkan lagu rap, entah rap aliran manapun itu yang penting rap. Dan saya sadar kalo sebenarnya ini perpanjangan bakat alam keturunan mukun manus Manggarai Timur yang cerewet, ada sedikit Joak bahkan mboat, ngapusi, lebay atau apalah yang pasti ini semacam kutukan turun menurun untuk setiap orang yang menggunakan bahasa mbaen dan mengeja angka 6 dengan enom jadi 666 menjadi enom ratus enom puluh enom yeahh thats right.


Lipooz
Credit: @lipooz


Dengan bawaan ini saya dengan mudah menyanyikan lagu-lagu T-Five yang panjang dan agak rumit, dan saat itu di SDK Kumba I Ruteng menyanyikan lagu itu di kelas sembari memukul meja menjadi kebanggan tersendiri karena hanya saya yang bisa sedangkan teman SD yang lain agak kelabakan maklum mereka berdarah Hili halang hili (Manggarai Barat) dan beberapa lain lagi keturunan sa pi pasar (Ruteng Tulen).


Ini Flores sound..it’ll bring u down
Ini Flores sound..it’ll bring u downIni flores sound Flores dg capital F,mungkin sj tak sebagus death rowBut it still gonna blow your deaf soulspt komodo varanus smua mangsa akan kuberanguswow..tak terbatas ruang dan waktutak sekedar cari uang dan lakuaku akan trus brjuang tanpa raguwalau darimu kuharus terbuang dan kaku

       Itu masa kecil sekitar tahun 2002 dan tahun 2003 saya melanjutkan perjuangan ke Seminari Pius XII Kisol. Di sini saya merasa tersisikan karena lagu hip-hop tidak mendapat tempat apresiasi setiap kali ada penampilan band kelas ataupun pentas apa saja, tersisih dan terpojokan. Ahh aku patah hati namun tidak patah semangat. Akhirnya bakat hip-hopku tersalurkan pada tahun 2005, waktu itu pesta emas Seminari Pius XII Kisol saya termasuk yang ikut mendirikan radio sanpiofm 98.8 bersama dengan seorang adik kelas dan frater pendamping yang pujii Tuhan memiliki selera yang kurang lebih saya Hip-hop. Sepanjang hari kuputar lagu hip-hop Saikoji, kungpow chiken dan beberapa lagi.

        Semasa SMA saya sungguh tergila-gila dengan lagunya sweet martabak, bondan, Neo dan juga Yogya hip-hop foundation. Saking fansnya sampai mengigau lagu hip-hop,, tetapi dalam hati masih ada yang terasa kurang bayangkan saja lagu hip-hop bahasa jawa saat itu keren banget tetapi kapan ada lagu hip-hop bahasa Manggarai? Kadang sewaktu senggang atau saat jam study aku menghabiskan waktu dengan mengarang syair lagu hip-hop Manggarai kalau tidak salah judul lagunya Mekas (Merindukan kamu sampai sakit) ada beberapa syair yang masih saya ingat 


Mekas (Merindukan kamu sampai sakit)
lelo wa natas nana ganteng ba bola,
hidi hada denur anak data,
rang nai di nana hi enu main mata
weda bola hena ulu pastor kepala...
kenangkan selalu ingatlah slalu, setiap saat setiap waktu dan sepanjang masa
buktikan cintamu nyatakan baktimu bla...bla..blaaa
(aku nyanyikan pake nada lagu gunung ranaka, reffnya juga kurang lebih sama kok.)



And than Ruteng is The City

           Setiap kali liburan hal yang paling penting dan yang paling utama adalah mendengarkan radio fm Ruteng, saat itu tahun 2007 ada dua radio fm di Kota kecil Ruteng Lumen 2000 dan BSfm, nah yang kedua ini menurut saya paling keren karena tidak menyiarkan lagu-lagu bernuansa alay kecuali kalau di request oleh pendengarnya dan biasanya dan memang sering orang merequest lagu lagu alay juga suatu tanda buruk bahwa waktu itu selera dan list musik orang-orang masih alay. Dan tentu saja yang request biasanyya ababil (abg labil). Nah sekitar tahun 2007 itu untuk pertama kalinya saya mendengar lagu hip-hop bahasa Manggarai diputar di radio BSfm, dinyanyikan oleh Lipooz judulnya Molas baju wara dan juga Ruteng is The City. Oh my God!!! Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bersyukur pada Tuhan untuk suatu hal yang kedengarannya bego, dan kendendangkan lagu Lipooz f*ck Peterpan and Stupid her fans!! aku bersyukur karena masih ada seorang dari ribuan anak muda Manggarai yang mencipkatan dan menyanyikan lagu hip-hop berkualitas, bahwa hip-hop juga bisa dinyanyikan dalam bahasa Manggarai dan aku memuji Tuhan bahwa orang ini, si Lipooz ini membawa sesuatu yang segar dalam musik Manggarai yang pasti orang ini bukan alay. Liriknya tajam, musiknya khas dan alunan sempurna two thumbs Upp!!

Dikala stress, 24/7 work like a dog, rap around the clockKnock knock,how is it..?Brother D datang hampiri, mengajak pergiBersantai lepaskan diri dari masalah yang menghimpit tiap hari, he said…Ini Lipooz fans hiphop paling fanaticCoba adu taktik menarikmu tuk bangkitHipnotis gerakmu mu dg beat yg bombastisSsssst sound gitar ala EspaniolaIramanya tak ada yg sanggup menolak

          Dan kemudian aku kembali ke Seminari dengan perasaan senang dan amat sangat bangga, tentunya dengan serentetan dua lirik lagu Lipooz yang sangat kuhafal; Molas Baju wara dan Ruteng is the City. Semenjak saat itu lagu Lipooz menjadi inspirasi dalam hidupku bahkan apalagi saat itu di Ruteng sedang hangat-hangatnya Misa lagu atau apalah yang sepanjang perayaan Ekaristi dari pembukanan sampe penutup semuanya dinyanyikan aku rasa itu juga efek Lipooz di kalangan rohaniwan,, yaahhh maybe.... Setiap disuruh membuat refleksi pribadi bahkan sampai karya tulis ilmiah pun pasti ada satu dua kata-kata yang mungkin romo prefek tidak sadari berasal dari lagu Lipooz, maklum romo prefek bukan anak hip-hop bukan juga anak alay, bukan anak reagge tetapi gaya anak umur lanjut (gaul) sezaman Titiek Sandora, Koes Plus dan sebangsa itulahh. Disaat galau atau pun sedih Ruteng is the City selalu kusenandungkan, bahkan menjadi doa tersendiri bahwa di suatu masa yang akan datang mungkin aku tidak lagi merasakan dinginnya Ruteng, kadornya anak Gextem, sopi, atau molas baju wara yang berselieweran di kala senja memanjakan mata. Ruteng is the city dan selalu menjadi City, home dimana molas baju wara atau pun amang pika bawang serta usang menjadi kenangan tersendiri dan semua kenangan itu hanya dan hanya ada dalam Ruteng is the City dan Molas baju wara.


EmoticonEmoticon