Kamis, 19 September 2013

Representasi Kepustakawanan Dalam The Name Of The Rose Karya Umberto Eco

Makalah penelitian dipresentasikan pada Gelar Sastra Dunia, FIB-UI, Depok, 19-20 Juli 2005.
Ditulis oleh Saudari Laksmi dan dipublikasikan atas izin dari penulis. Untuk Mengenang Jasa Para Pendidik di Seminari Pius XII Kisol



Abstrak

      The name of the Rose, karya sastra yang tergolong genre detektif ini dilatarbelakangi oleh isu-isu kepustakawanan yang kuat berdasarkan pada kultur masyarakat abad pertengahan di Eropa. Dengan menggunakan metodologi analisis wacana, permasalahan yang diteliti adalah mengetahui sejauh mana konsep kepustakawanan saat itu, yaitu pengertian perpustakaan, sistem pengembangan dan pengolahan koleksi termasuk klasifikasi, sistem sensor dan masalah kebebasan informasi, pustakawan yang profesional, sampai dengan sistem pelayanan dan peminjaman, dan pemanfaatan koleksi oleh pemakai. Selain itu kajian ini juga mengidentifikasi nilai-nilai budaya yang terkait dengan kepustakawanan. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa masyarakat pada saat itu, khususnya para rahib di biara di Italia Utara tersebut sudah menyadari pentingnya kepustakawanan yang digambarkan sangat rinci di dalam karya tersebut. Mereka mendudukkan posisi perpustakaan dan pustakawan sebagai salah satu unsur penting setelah urusan gereja dan biara. Nilai-nilai budaya yang terpantul dari sistem sosial menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa buku merupakan sumber ilmu pengetahuan dan perlu dilestarikan dan disebarluaskan, baik buku yang memberi pencerahan maupun yang dianggap menyesatkan pada saat itu. Nilai budaya yang terkait dengan isu tersebut adalah nilai keindahan, religius, kesetiaan dan kedisiplinan, serta keingintahuan. 

Keywords : librarianship, culture, discourse analysis, medieval age, novel.


Pendahuluan
        Sebuah novel tidak hanya menyajikan tokoh dan peristiwa dalam suatu latar, tetapi juga berbagai informasi. Novel The Name of the Rose bukan hanya menyajikan sebuah cerita detektif berlatarbelakang agama, politik dan perkembangan ilmu pengetahuan di Abad Pertengahan (sekitar abad 9 hingga 13), tetapi juga mengetengahkan fenomena kepustakawanan. Bagi para pustakawan, daya tariknya bukan hanya pada usaha sang detektif dan asistennya untuk membongkar kasus pembunuhan di perpustakaan biara, tetapi juga berbagai informasi tentang kepustakawanan yang terjalin dalam cerita, termasuk nilai kebudayaan yang tersangkut. Nilai kebudayaan yang dimaksud ialah seperangkat konsep abstrak yang dianggap penting dan dijadikan tuntunan dalam beraktivitas di bidang kepustakawanan, seperti melestarikan buku, mengembangkan ilmu pengetahuan, memupuk keingintahuan, kedisiplinan, keteraturan.


         Novel karya Umberto Eco, The Name of the Rose adalah karya sastra yang muncul pertama kali pada tahun 1980 dan menjadi best seller di seluruh dunia. Sebagaimana dijelaskan dalam pengantar oleh St. Sunardi[2], novel ini memberikan banyak informasi mengenai kehidupan biara sehari-hari. Lakon pembunuhan dalam novel ini mengisahkan orang-orang yang menghuni biara – yang disebut sebagai rahib – hubungan di antara mereka dan antara mereka dengan dunia luar, kegiatan berdoa, kegiatan di dapur, dan bagian terbesar adalah kegiatan di perpustakaan dan skriptorium[3]. Di dalam penceritaan, proses penyelidikan pembunuhan diramu dengan diskusi filsafat, perdebatan teologi dan wacana sains yang saat berkembang dalam masyarakat intelektual. 

        Kepustawakanan[4] merupakan istilah umum untuk studi yang mempelajari perpustakaan dan informasi, peranannya di dalam masyarakat, rutinitas pekerjaan dan prosesnya, serta sejarah dan perkembangannya di masa depan. Ketepatan informasi tentang isu-isu kepustakawanan dalam novel karya Umberto Eco ini diperkuat oleh pernyataan-pernyataannya dalam bagian akhir karyanya. Ia menjelaskan bahwa bahan dasar penulisan fiksinya diambil dari catatan seorang biarawan muda yang hidup pada tahun 1327. Ia menemukan dokumen tersebut pada tahun 1968 dalam bahasa Prancis, kemudian meramu catatan-catatan yang ditemukannya dalam jalinan plot cerita detektif yang memikat. Ia tidak hanya menulis tentang abad pertengahan, tetapi juga menjiwai tokoh-tokohnya dengan berpikir dan berbicara dengan gaya abad pertengahan. Selain itu, eksistensi Biara Melk tetap abadi di kota Melk, di tepi sungai Danube, Austria. Sejarah[5] menyatakan bahwa sebelum menjadi biara, biara tersebut berfungsi sebagai istana milik Leopold III von Babenberg yang, pada tahun 1089 kemudian menghibahkannya kepada para rahib Benediktin dari Lambach. Biara dengan gaya baroque tersebut dibangun kembali oleh seorang arsitek bernama J. Prandtauer. Biara yang makmur tersebut memiliki perpustakaan besar, kurang lebih 80.000 judul, terdiri dari buku dan manuskrip kuno. 


          Novel didefinisikan sebagai suatu narasi fiktif, suatu imajinasi dengan karakter dan adegan yang merupakan representasi dari kehidupan nyata pada masa lalu atau masa kini yang dilukiskan dalam sebuah plot yang kompleks[6]. Meskipun ‘representasi kehidupan nyata’ ini masih banyak diperdebatkan para ahli kritik bahasa, kemiripan dengan kehidupan nyata tetap menjadi karakteristik yang menonjol yang membedakan genre novel dengan genre lainnya, seperti epik dan roman. Kemiripan antara dunia nyata dengan imajinasi tersebut tampak jelas pada novel sejarah. Informasi-informasi yang disajikan dalam novel bisa dijadikan sebagai referensi yang nyata. Pernyataan tersebut diperkuat oleh teknik penulisan yang menggunakan metode riset yang dewasa ini semakin banyak dilakukan oleh para penulis fiksi. Menurut Barbara Fisher[7], seorang pustakawan dan penulis novel, riset yang dilakukan dalam proses penulisan fiksi dibedakan dalam dua jenis. Pertama, riset dilakukan untuk memastikan keotentikan detail tertentu, termasuk karakter dan kejadian. Jenis kedua adalah menjadikan hasil riset sebagai landasan penulisan fiksi, baik karakter, cerita maupun jalinan plot. Eco melakukan keduanya dalam novel ini. Oleh karena itu, informasi tentang rincian gedung perpustakaan, judul-judul buku koleksinya, karakteristik pustakawannya, manajemen perpustakaan selayaknya dipercaya sebagai sesuatu yang pernah ada dan terjadi. 
       Demikian pula dengan subjek penelitian berikutnya yaitu sistem nilai budaya. Yang dimaksud dengan nilai budaya adalah konsep abstrak mengenai masalah dasar yang dianggap sangat penting dan bernilai tinggi dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat. Sistem nilai budaya terdapat dalam adat istiadat dan dijadikan suatu pedoman dalam berperilaku menjalankan hidup. Sebagai tuntunan hidup, sistem nilai terdiri dari norma dan peraturan-peraturan, misalnya seperti nilai religius, pengendalian diri atau kesabaran, nilai moral, nilai kedisiplinan, dan sebagainya. Sistem nilai yang dianalisis dibatasi hanya pada nilai yang terkait dengan kepustakawanan, seperti isu mengenai buku, gedung perpustakaan, kebebasan informasi, dan sebagainya. 
         Novel yang berlatar belakang abad pertengahan tersebut mengisahkan cerita pembunuhan yang terjadi di perpustakaan di dalam biara Benediktin di kota Melk. Biara ini dianggap sebagai daerah netral dan diharapkan menjadi penengah antara kelompok Fransiskan (yaitu mereka yang bersekutu dengan Raja, yang percaya bahwa manusia adalah penuh mahluk yang seharusnya menderita, tidak tergoda oleh kekayaan) dengan kelompok Paus (mereka yang didukung oleh para Dominikan). Kematian seorang biarawan muda bernama Adelmo dari Otranto, seorang illuminator – yaitu rahib yang bertugas menghiasi tepi perkamen atau buku dengan gambar-gambar – yang kemudian disusul oleh kematian sahabat Adelmo, yaitu Venantius, kemudian Berengar, keduanya adalah pustakawan. Kematian berikutnya berturut-turut adalah Severinus, seorang rahib yang mendalami pengobatan melalui khasiat tanaman dan Maleakhi, seorang pustakawan, serta Abbas dan Jorge. Penyelidik dalam kasus tersebut adalah Bruder William Baskerville, seorang rahib yang didatangkan dari Inggris, dan dibantu oleh Adso, seorang biarawan muda Fransiskan dari Jerman. William dikirim ke Biara tersebut pada tahun 1327 untuk menyelidiki kasus bidah yang dituduhkan kepada rahib Fransiskan di dalam biara tersebut. Penyelidikan mereka yang rumit dan berbelit-belit bagai labirin yang diwujudkan dalam gedung perpustakaan yang terletak pada Aedificium, di lantai tiga, membawa William dan Adso kepada kesimpulan misteri pembunuhan. Pelaku yang sama sekali tidak diduga ternyata adalah Jorge, rahib tertua di biara tersebut. Meskipun sudah buta, ia menjadi nara sumber bagi rahib-rahib lainnya. Pada saat William, Adso dan Jorge terlibat dalam perdebatan tentang bagaimana Jorge merencanakan dan melakukan pembunuhan-pembunuhan tersebut, tanpa disengaja lampu yang dibawa Adso terlepas dan membakar buku dan rak yang ada di perpustakaan. Dengan sistem sirkulasi udara yang ada, api dengan cepat menjalar dan membakar hampir seluruh biara. Peristiwa awal hingga akhir berlangsung dalam waktu tujuh hari.
       Tulisan ini tidak akan membahas teknik penceritaan dan plot dalam novel tersebut, tidak pula membahas masalah religi, politik atau filsafat yang dikandung di dalamnya, tetapi mengkaji penggambaran kepustakawanan dan nilai-nilai budaya yang terkait dengan kepustakawanan yang tercermin dari novel tersebut.Metode yang digunakan adalah metode analisis wacana (discourse analysis), yaitu menganalisis teks dalam tataran ujaran, semiotika, semantic dan konteks. Data sepenuhnya diperoleh dari penelitian kepustakaan, yaitu novel karya Umberto Eco, The name of the Rose, yang diterjemahkan oleh Nin Bakdi Soemanto, dan diberi kata pengantar oleh St. Sunardi. Buku terjemahan dalam bahasa Indonesia ini diterbitkan oleh Bentang Budaya, Yogyakarta, tahun 2003.
Peta Biara dalam Novel Il Nome Della Rosa
Sumber Gambar; Google Images


Metafora Kepustakawanan Abad Pertengahan
       Konsep kepustakawanan abad pertengahan yang dijabarkan dalam novel ini sangat lengkap dan rinci. Konsep bahwa perpustakaan sebagai sumber ilmu pengetahuan sangat jelas digambarkan pada novel tersebut. Pada masa itu, penyebaran ilmu pengetahuan bersumber pada gereja. Segala jenis didplin ilmu terkumpul di dalam perpustakaan gereja. 

1) Rahim yang melahirkan ilmu pengetahuan
       Salah satu tokoh menyatakan bahwa ‘Perpustakaan adalah kesaksian terhadap kebenaran dan terhadap kekeliruan’ (halaman 173). Pernyataan tersebut juga didukung kalimat yang menyatakan bahwa pemakai perpustakaan, yaitu para rahib, yang datang dari berbagai tempat yang jauh dari seluruh dunia, datang dengan tujuan tegas yaitu untuk memperkaya wawasan dengan kehebatan yang tersembunyi dalam rahim luas perpustakaan (halaman 184). Dinyatakan pula bahwa para rahib memiliki ilmu yang tersebar dalam berbagai disiplin ilmu, seperti ahli purbakala, ahli gambar terbaik, rubrikator, retorika, matematika, atau penyalin buku yang mahir (halaman 98). Tempat terkumpulnya buku dari segala daerah dan zaman. Telah disebutkan di atas, bahwa masa itu, Biara Melk yang makmur memiliki perpustakaan kristiani yang paling banyak mempunyai koleksi buku, yang jumlahnya mengalahkan koleksi dari perpustakaan-perpustakaan di negara lain.
      Nilai budaya yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah sumber kehidupan digambarkan dalam pilihan kata ‘rahim’, halaman 184. Penggunaan metafora tersebut menyiratkan keagungan dan kesucian arti perpustakaan sebagai sumber ilmu pengetahuan dari segala bidang ilmu, dari berbagai negara dan era, juga menggambarkan tempat yang suci, cinta kasih, tenang, penuh misteri, dan sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Perpustakaan yang menjadi ajang cerita pelacakan dalam novel tersebut terletak di rahim sebuah gereja, tak bernama, tersembunyi di daerah pegunungan di Italia Utara. Letak itu bisa diinterpretasikan belum terjamah oleh orang luar: sebuah tempat suci. 






2) Neraka Hades dan Jerusalem


Di dalam novel ini, nilai keingintahuan yang sangat kuat digambarkan dalam berbagai peristiwa. Pertama, kehausan para rahib akan pengetahuan yang mencuri-curi masuk ke perpustakaan, ingin menemukan buku terlarang yang menyebabkan kematian tersebut. Kedua, dikisahkan bahwa perpustakaan tersebut dikunjungi banyak rahib dari berbagai negara, yang memiliki berbagai bidang ilmu, seperti ahli purbakala, ahli retorika, matematika, atau penyalin buku yang mahir. Penggambaran nilai yang berkaitan dengan keingintahuan juga direpresentasikan oleh para rahib-penulis yang ditugaskan khusus untuk menyalin buku. Di dalam cerita tersebut, meskipun peraturan menetapkan bahwa dalam menyalin rahib tidak boleh memahami apa yang ditulisnya, lama-kelamaan peraturan tersebut dipatahkan, kaena dorongan untuk selalu ingin tahu. Realitas tersebut dijadikan pemicu kejahatan dengan terjadinya peristiwa pembunuhan rahib. Jadi, selain sebagai sumber ilmu pengetahuan yang mencerahkan, perpustakaan di novel tersebut, halaman 244, juga disimbolkan seperti dunia bawah tanah raja neraka Hades. Keingintahuan yang terlalu besar dapat menyesatkan seseorang dan bisa fatal.


Sebab itu perpustakaan digambarkan sebagai suatu simbol, yaitu ‘perpustakaan merupakan Jerusalem surgawi sekaligus dunia bawah tanah pada batas antara terra incognita dan dunia gelap Hades di bawah tanah’ (halaman 244). Paradoks surga dan neraka menggambarkan bahwa perpustakaan dapat membahagiakan mereka karena di dalam buku yang mereka baca dapat ditemukan timbunan harta karun yang bermanfaat bagi kehidupan, tetapi sebaliknya neraka menggambarkan bahwa perpustakaan merupakan tempat disimpannya bacaan-bacaan yang bisa mempengaruhi orang menjadi jahat. Seperti yang diungkapkan Williamkepada Nicholas, si ahli kaca bahwa :






“… seperti yang sudah diperingatkan oleh Roger Bacon yang agung, rahasia 


ilmu pengetahuan tidak harus selalu disampaikan kepada semua tangan, 


karena ada yang bisa menggunakannya untuk tujuan jahat…”






Dari sudut pandang kegunaan buku, dapat dikatakan bahwa sebuah buku yang dianggap berisi inforamsi mengenai kebohongan maupun mengenai kebenaran, jika dibaca oleh pembaca yang bijaksana, isi buku tersebut bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat, tetapi jika dibaca oleh pembaca berhati jahat, buku tersebut akan disalahgunakan dan akhirnya menimbulkan bencana.






3) Organisma yang hidup dan berbicara


Janin terus tumbuh di dalam rahim. Begitu pula penggambaran perpustakaan sebagai suatu organisma, sesuatu yang hidup. Perpustakaan berkembang dengan cara memperbesar jumlah koleksinya, selain melestarikan koleksi yang sudah ada. Di dalam novel tersebut, dinyatakan bahwa perpustakaan memiliki ahli khusus yang disebut sebagai rubrikator, yaitu orang-orang yang membuat buku untuk ditulisi. Di halaman 246, tokoh Magnus dari Iona, Rabano dan Toledo digambarkan secara rinci sedang menggosok perkamen[8] dengan batu apung. Penyalinan bisa dilakukan secara utuh atau meringkasnya. Tujuan utama adalah untuk menghasilkan buku sebanyak-banyaknya. 


Di halaman 380-383, koleksi tidak hanya tumbuh berkembang tetapi juga berbicara tentang sesuatu. Hal ini digambarkan dalam percakapan antara William dengan Adso tentang perkamen yang menjadi buku catatan Venantius, salah satu korban pembunuhan. Menurut si detektif, mengidentifikasi sifat dari isi sebuah buku dapat mengungkapkan sifat si pembunuh. Sebuah buku tidak hanya membicarakan tentang benda, manusia, alam atau dewa-dewa yang ada di luar buku, tetapi juga menjelaskan isi buku lainnya. Di ruang perpustakaan di mana orang dilarang berbicara keras-keras, buku-buku tersebut menyuarakan gagasan-gagasan dari orang yang telah meninggal, kemudian gagasan tersebut ditanggapi oleh orang yang masih hidup. 


Konsep masyarakat pada masa itu tentang perpustakaan yang terlihat sudah matang, tidak terlepas dari pandangan mereka terhadap pentingnya buku, terutama di dalam biara tersebut. Di halaman 49, perumpamaan lainnya disebutkan oleh Abbas kepada William dalam satu kalimat dalam bahasa Latin :






“Biara tanpa buku,” Abbas itu bersenandung, dengan serius, “seperti masyarakat tanpa kebudayaan, benteng tanpa tentara, dapur tanpa perabot, meja tanpa makanan, kebun tanpa rumput tumbuh, padang tanpa bunga, pohon tanpa daun.” – pent.






Sebaliknya, disebutkan pula bahwa beberapa bangsawan memperlakukan buku, biasanya dibeli dalam edisi luks yang pinggiran halamannya diberi serbuk emas dan sudah tentu harganya mahal, digunakan sebagai symbol status sosial.


Jika dibaca lebih cermat, ternyata tidak semua rahib di dalam novel mencintai perpustakaan dan segala isinya. Menurut Abbas, Ubertino, rahib berusia 68 tahun yang menjauhi benda-benda duniawi, menganggap bahwa perpustakaan merupakan daya pikat sekular (halaman 53).




Sikap tertutup dan sensor

Kontradiksi antara perlu dan tidaknya pengetahuan disebarluaskan kepada umum banyak terdapat di dalam novel ini. Di dalam kisah ini, tidak semua kebenaran boleh didengar semua orang, karena hanya orang-orang tertentu, yaitu sesama orang terpelajar, yang bisa memahami hakikat dan manfaat suatu ilmu pengetahuan. Kadang-kadang rahasia tertentu lebih baik disembunyikan dalam kata-kata yang penuh rahasia dan teka-teki. Dalam berkomunikasi, mereka juga percaya bahwa seseorang yang terlalu banyak bicara tidak baik, lebih baik diam untuk menghindari dosa. Perilaku tertutup ini memang tepat digunakan dalam cerita detektif untuk memberi suspen yang diperlukan. Beberapa bagian di dalam novel tersebut menjabarkan tentang perilaku diam ini.


Pada saat makan malam, menurut tradisi di gereja di dalam novel tersebut, seorang rahib akan membacakan peraturan untuk tutup mulut sebagai suatu tindakan nabi yang harus ditiru. Di halaman 129, Adso menyatakan bahwa ‘regula’ tersebut selalu dibaca oleh seorang rahib :






“Marilah kita meniru contoh dari nabi, yang mengatakan: ‘Aku sudah menetapkan, aku akan menjaga jalanku sehingga jangan berbuat dosa dengan lidahku, aku sudah menaruh kekang pada mulutku, aku sudah jadi bisu, dengan merendahkan diriku, aku tidakmau lagi bicara bahkan tentang hal yang jujur.’ …”






Perilaku ‘terlalu banyak bicara’ terlihat juga ketika rahib Aymaro dari Alesandria telah banyak bicara kepada William. Ia mengeluhkan ketidakpuasannya terhadap peraturan-peraturan biara yang berkesan tertutup dengan melarang rahib memasuki perpustakaan, mempekerjakan banyak orang asing daripada orang Italia sendiri, dan mengapa Raja bisa menjadi kaya dengan berdagang sementara biara tidak boleh, padahal mereka bisa menulis dan menjual buku-buku. Ketika ia menyadari telah berbicara banyak, ia menyesal dengan berkata, “Ya Allah yang baik, pukullah lidahku, karena aku sudah menyatakan hal-hal yang tidak pantas.” 


Tidak seorang pun boleh memasuki perpustakaan, kecuali rahib pustakawan, yang sekaligus bertanggungjawab membuka dan mengunci pintu Aedificium. Izin khusus diberikan kepada sedikit pemakai luar yang khusus, seperti intelektual yang ternama. Kadang-kadang pustakawan sengaja berbohong dengan mengatakan bahwa buku yang dicari tersebut hilang, padahal disimpan di perpustakaan di bagian buku terlarang. Isu tersebut muncul pada rahib Maleakhi ketika seseorang menanyakan buku yang bertajuk finis Africae (batas-batas Afrika, pent.). Di salah satu ruangannya, terdapat kaca setinggi manusia dewasa. Di halaman 229, kaca tersebut digunakan sebagai alat untuk menakut-nakuti orang yang tidak berhak masuk. Melihat banyaknya jalan dan pintu rahasia, William berpikir bahwa pada masa-masa lalu, Aedificium tersebut mungkin digunakan sebagai benteng. Selain dicegah dengan bentuk bangunan berupa labirin, tamu-tamu yang tidak diharapkan dihambat pula oleh aroma beracun dari ramuan Arab yang dibakar di daerah-daerah tertentu di perpustakaan. Jika asap tersebut dihirup, seperti yang dialami Adso dalam novel tersebut yang sedang menyelidiki isi perpustakaan, ia mengalami halusinasi penampakan mahluk-mahluk menyeramkan, sehingga ia lupa tujuannya ke perpustakaan. Sistem suksesi posisi pustakawan yang diatur selama mungkin dan diturunkan secara turun-temurun, dimaksudkan untuk menjaga segala kerahasiaan yang tersimpan. Sulitnya akses informasi di perpustakaan tersebut juga ditandai oleh sistem penulisan katalog yang sengaja diberi keterangan minimal dan ditulis dengan sangat rapat (halaman 99), yaitu keterangan judul, nama pengarang, kode lokasi dan singkatan seperti ‘ar’ (bahasa arab), atau ‘syr’ (bahasa Syria), seperti dalam susunan catatan buku terlarang yang beracun : 






I. ar. De dictis cuiusdam stulti. 


II. Syr. Libellus alchemicus aegypt. 


III. Expositio Magistri Alcofribae de coena beati Cypriani Cartaginensis Episcopi. 


IV. Liber acephalus de stupris virginum et meretricum amoribus. 






Wiiliam of Baskerfield mengecam pedas Dewan Soissons – badan sensor, yang menghukum Abelard, rahib muda karena mencoba membaca buku terlarang. Menurutnya, sebuah buku diciptakan untuk dibaca, bukan untuk dikubur seperti yang terjadi pada perpustakaan tersebut. Di halaman 529, ia menyatakan bahwa: “Kebaikan sebuah buku terletak pada keadaannya yang bisa dibaca…”. Dalam novel tersebut, sensor dikenakan pada buku-buku yang membuat orang tertawa dan buku-buku mengenai pentingnya tertawa. Selain buku tentang tertawa, masuk dalam kategori ini adalah buku-buku tentang nujum, sihir hitam, atau resep ramuan untuk membuat guna-guna. Sensor juga diberlakukan pada buku-buku yang ditulis oleh orang awam. Perpustakaan tetap menyimpan buku-buku artes liberals, dan disembunyikan di ruang rahasia perpustakaan. Mengenai larangan buku tentang tertawa dalam kisah ini, Venantius, rahib korban pembunuhan, mengatakan bahwa Aristoteles membicarakan tawa sebagai sesuatu yang baik dalam menyampaikan kebenaran. Pernyataan tersebut menentang kepentingan politis gereja, yang menyatakan bahwa salah satu cara menjauhkan jiwa dari dosa adalah dengan merasa takut, karena rasa takut akan meredam pemberontakan rakyat terhadap agama. Pada masa itu, terjadi pertentangan antara pernyataan yang dikeluarkan oleh Raja dengan dogma yang dikeluarkan oleh Paus yang melegalkan penumpukan kekayaan umat untuk dijadikan derma. Dapat disimpulkan bahwa kesadaran tentang hak untuk memperoleh informasi sudah dimiliki oleh masyarakat Abad Pertengahan, di mana kesadaran tersebut merupakan perwujudan dari gagasan pencerahan.


Mengenai larangan buku tentang tertawa dalam kisah ini, Venantius, rahib korban pembunuhan, mengatakan bahwa Aristoteles membicarakan tawa sebagai sesuatu yang baik dalam menyampaikan kebenaran. Pernyataan tersebut menentang kepentingan politis gereja, yang menyatakan bahwa salah satu cara menjauhkan jiwa dari dosa adalah dengan merasa takut, karena rasa takut akan meredam pemberontakan rakyat terhadap agama. Pada masa itu, terjadi pertentangan antara pernyataan yang dikeluarkan oleh Raja dengan dogma yang dikeluarkan oleh Paus yang melegalkan penumpukan kekayaan umat untuk dijadikan derma. Dapat disimpulkan bahwa kesadaran tentang hak untuk memperoleh informasi sudah dimiliki oleh masyarakat Abad Pertengahan, di mana kesadaran tersebut merupakan perwujudan dari gagasan pencerahan.


Pekerjaan utama di perpustakaan 

Pekerjaan utama di perpustakaan dibedakan dalam 3 kelompok, yaitu pengadaan, pengolahan dan layanan. Rutinitas pengadaan seringkali disebut juga sebagai prakatalogan, mencakup seleksi pustaka, memesan, membeli hingga penerimaan dan registrasi pustaka ke dalam buku induk. Sementara itu, pekerjaan pengolahan, atau pengatalogan, meliputi pembuatan deskripsi bibliografi dan klasifikasi, serta melengkapi pustaka dengan sarana peminjaman, termasuk menyampul dan melabel buku. Dalam bagian ini, pekerjaan juga mencakup pelestarian pustaka. Terakhir adalah kegiatan layanan, yaitu menyediakan akses ke pemakai, meminjamkan dan menerima kembali pustaka yang dipinjam. 


1) Pengadaan

Penambahan koleksi diperoleh dari hasil menyalin naskah yang ada di perpustakaan maupun dari buku-buku yang dibawa oleh para rahib luar yang datang untuk mencari naskah. Kegiatan menyalin tidak hanya dilakukan dengan menuliskan kembali atau meringkas teks yang sudah ada, tetapi juga menggambari tepi buku atau marginalia[9] dengan gambar-gambar mahluk yang tidak lazim, seperti kera dengan tanduk rusa jantan, ikan bersayap burung, anjing dikejar kelinci. Menyalin dan menggambar dikerjakan dengan tingkat ketelitian tinggi dan halus, dengan imajinasi yang didukung oleh pengetahuan tentang alam. Dalam novel ini, kegiatan yang mengandung nilai religius yang tinggi, sebab dapat disamakan dengan aktivitas berdoa itu, terungkap dibalik kematian seorang biarawan muda bernama Adelmo dari Otranto, seorang illuminator – yaitu rahib yang bertugas menggambari tepi perkamen atau buku (halaman 103). 

Perpustakaan khusus di buku tersebut juga muncul, diurus oleh rahib herbalis bernama Severinus dari Sankt Wendel (halaman 93). Buku-buku di dalam perpustakaan tersebut, yang berlokasi di klinik biara, khusus mengenai tumbuh-tumbuhan (herbarium) sebagai tanaman obat dan juga racun, yang di dalam buku ini dipakai sebagai alat pembunuh yang dioleskan pada halaman buku. 

Jumlah atau kuantitas buku di dalam novel ini dianggap penting, di samping kualitas isi koleksinya. Perpustakaan biara tersebut memiliki jumlah jauh lebih besar dari 6.000 naskah kuno di Nolvalesa dan 10.000 di Wazir Ibnu al-Alkami, memiliki lebih banyak koleksi dibandingkan 36 perpustakaan di Bagdad, serta memiliki Kitab Injil sebanyak 2.400, sama banyak dengan jumlah Al-Qur’an di Kairo (halaman 48).


2) Pengolahan

Penggambaran tata kerja pengolahan buku, mulai dari resgistrasi, pengkatalogan, penyusunan buku di rak hingga pelestraian, juga diuraikan dengan teliti. William memperoleh petunjuk jejak pembunuhan dari catatan penerimaan buku masuk. Buku-buku baru dicatat menurut tanggal penerimaan, dari hasil sumbangan atau hasil penyalinan. Catatan registrasi tersebut perlu dimiliki oleh sebuah perpustakaan, sebab dapat digunakan sebagai catatan jumlah buku yang telah dikoleksi, buku apa saja yang masuk dan kapan diterima. Dalam novel ini, catatan tersebut membantu penyelidikan dalam menentukan kapan seorang pustakawan diganti. Tulisan tangan yang ada di buku bisa menjadi petunjuk siapa pustakawan yang saat itu sedang bertugas. 


Di dalam novel tersebut, sistem klasifikasi masih sederhana. Tajuk subjek disusun berdasarkan pada pembagian ilmu di Abad Pertengahan, yaitu ilmu hukum dan teologi, sedangkan ilmu-ilmu lainnya disebut kelompok artes liberals, yaitu sebagai ilmu-ilmu bantu. Berdasarkan tata ruang di perpustakaan yang disesuaikan dengan peta dunia, koleksi dikelompokkan sesuai nama negara. Contohnya, buku-buku dengan subjek gramatika dan retorika terletak di ruangan Hibernia, karena merujuk masyarakat barat, sementara subjek mengenai seni hispanik[10] disimpan di ruang Yspania, dan buku-buku yang dianggap sumber kebohongan, seperti buku-buku sains, finis Africae, atau buku tentang Islam diletakkan di Leones (berada di menara selatan). Di halaman 101, katalog yang berfungsi sebagai alat temu kembali memuat informasi yang sangat sedikit dan urutannya disusun berdasarkan daftar judul buku yang tidak alfabetis. Di samping setiap judul buku, diberi anotasi seperti berikut ini: iii, IV gradus, V dalam prima graecorum. Artinya, angka iii menunjukkan posisi buku, IV gradus menunjukkan nomor rak, sedangkan V dalam prima graecorum menunjukkan nomor lemari yang terletak di ruangan atau gang tertentu dalam perpustakaan. Susunan katalog seperti itu, yang menyulitkan para rahib, sehingga mau tidak mau harus bertanya langsung kepada pustakawan, dijadikan sebagai salah satu alat agar cerita detektif tersebut lebih kompleks. 

Di dalam novel, halaman 224, penjelasan pengaturan buku di rak-rak besar yang bersandar pada dinding sedikit membingungkan: ‘Pada dinding-dinding buntu itu berdiri rak-rak buku yang besar, sarat oleh buku-buku yang tertata rapi. Masing-masing kotak buku diberi suatu gulungan perkamen dengan satu nomor, dan begitu pula dengan masing-masing rak itu; jelas nomornya sama dengan yang sudah kami lihat dikatalog.’ Tidak jelas, apakah sebagian buku disusun secara vertikal seperti umumnya susunan buku di perpustakaan, dan sebagian lain dikumpulkan di dalam kotak buku yang terdapat di rak? Bagaimana dengan letak gulungan perkamen yang diberi nomor tersebut? 


3) Pelestarian

Pada halaman 246, ancaman kerusakan oleh manusia dengan jelas digambarkan melalui tradisi membaca buku. Kebiasaan yang dimaksud adalah membuka halaman demi halaman dengan membasahi ibu jari dan telunjuknya dengan ludah. Kandungan air dalam ludah yang menempel pada kertas menyebabkan jamur tumbuh, dan mempercepat kerusakan buku. Dalam The name of the Rose, kebiasaan tersebut menyebabkan racun yang dioleskan pada halaman-halaman buku terlarang membunuh pembacanya. Bagian ini sedikit banyak memberikan informasi tentang bahan-bahan buku. Digambarkan bahwa banyak naskah kuno atau perkamen memiliki lembaran-lembaran berbahan semacam kain yang sangat halus – biasa disebut sebagai kertas linen, sudah lapuk karena tua dan lengket. Pada saat bahan tersebut lembab, lembaran-lembaran tersebut akan sulit dibuka. 

Rahib pustakawan sangat cermat menjaga kelestarian pustaka di dalam perpustakaan, sebab mereka menyadari bahwa perpustakaan adalah gudang ilmu pengetahuan, dan bahwa buku adalah benda rentan yang akan rusak oleh waktu, hewan pengerat, cuaca, gempa bumi, kebakaran, perampokan, tangan-tangan usil, atau pemalsuan tulisan. Dari banyak bagian yang terpisah-pisah dalam kisah ini, terlihat bahwa tindakan pelestarian koleksi yang dilakukan para rahib sangat berlebihan. Selain merantai buku katalog di meja, perpustakaan memberlakukan prosedur peminjaman sistem tertutup. Pengguna perpustakaan tidak bisa langsung mencari koleksi di rak, tetapi mencarinya di katalog, lalu memintanya kepada pustakawan. Mengenai masalah debu, masalah kecil yang sering diabaikan orang awam, juga terdapat dalam buku ini, meskipun hanya disinggung dalam satu kalimat, yaitu “Semua buku itu tertutup lapisan debu tipis, pertanda buku-buku itu dibersihkan pada waktu-waktu tertentu.”

Pelestarian koleksi juga dilakukan melalui disain bangunan yang dirancang dalam wujud labirin – laberinthus. Kedua detektif di dalam novel, William dan Adso menemukan bahwa perpustakaan yang berlokasi di Aedificium, memiliki banyak ruangan dengan susunan rumit. Dengan bangunan berlantai tiga, di sisi sebelah kiri biara di bagian belakang, lantai paling bawah adalah tempat makan dan dapur, lantai kedua adalah ruang skriptorium, yaitu tempat rahib-rahib membaca dan menyalin naskah, sedangkan lantai paling atas adalah perpustakaan. Di dalam perpustakaan tersebut terdapat 56 ruangan, dengan 4 ruang berbentuk heptagonal dan 52 persegi. Delapan di antaranya tanpa jendela. Seluruh ruangan mengelilingi bangunan berbentuk octagonal, menyerupai sumur. Hanya ada dua pintu keluar masuk perpustakaan. Pintu biasa, yaitu yang dapat dimasuki melalui osarium, ruangan semacam gang tempat menyimpan jasad rahib penjaga perpustakaan. Gang tersebut terhubung dengan tangga dengan sekitar 12 anak tangga, sedangkan pintu lainnya adalah pintu rahasia, yang hanya diketahui oleh si pembunuh dan Abbas. Rumitnya susunan ruangan tersebut mengurangi frekuensi orang untuk menyentuh buku, sehingga menjaga keawetan buku.

Di dalam bangunan berbentuk labirin tersebut, ruangan-ruangan tertentu memiliki dua pintu atau lebih atau hanya punya satu pintu yang menuju ke ruang buntu. Antar ruangan, dibuat celah-celah sempit pada sudut-sudut tertentu, sehingga angin yang berhembus melalui celah-celah tersebut menahan angin dari celah lain, dan berputar menyebar ke ruangan lainnya. Ventilasi ruangan diatur agar udara tidak terlalu lembab dan pengap di musim panas dan tidak terlalu kering di musim dingin, sehingga suhu udara yang pas tersebut dapat melindungi buku dari kerusakan.

Di atas masing-masing celah yang cukup lebar itu, terdapat suatu perkamen besar yang dilukiskan pada dinding, yang masing-masing berisi tulisan latin yang berbeda-beda. Pada kalimat-kalimat yang diambil dari Kitab Injil tersebut, salah satu hurufnya berwarna merah. Jika huruf bercat merah tersebut dihubungkan dengan huruf bercat merah pada ruangan lain, akan terbentuk nama kota atau negara. Misalnya, 3 huruf terakhir dari kata ‘Hibernia’, digunakan juga untuk ‘Yspania’. Urutan nama-nama tersebut kemudian membentuk peta dunia. Peta tersebut menjadi petunjuk jalan masuk dan keluar dari labirin tersebut. Bahwa semua petunjuk di dalam perpustakaan tersebut disusun secara mnemonik, mudah diingat rahib pustakawan tetapi sangat dirahasikan dari orang-orang lain. Arsitektur gedung perpustakaan memiliki konsep keindahan yang hebat selain memikirkan perlindungan dan pelestarian koleksi secara alamiah. 

Kelemahan disain bangunan labirin tersebut selain bisa membuat seseorang tersesat, pengaturan pintu dan celah-celah sirkulasi udara inilah yang menjadi penyebab sulitnya memadamkan api: di akhir cerita, sebuah lampu terjatuh di atas tumpukan buku dan menimbulkan kebakaran. Orang sulit membawa air dari dapur ke tingkat tiga melalui hanya satu tangga dan biara itu musnah dimakan api. Arsitektur yang rumit itu tidak bisa menjamin keselamatan bangunan itu. Ternyata, celah-celah sirkulasi udara di antara ruangan, yang baik untuk menjaga kelembaban buku, malah menjadi media yang cepat menebarkan api ke segala ruangan.


Ruang baca

Oleh Adso, skriptorium di lantai 2 dibayangkannya seperti bengkel pengetahuan. Telah disebutkan di atas, bahwa di tempat itulah para rahib membaca, menggambar dan menyalin naskah. Pengaturan ruang baca dan ruang penyimpanan buku dibicarakan di halaman 97. Penulis juga menyebutkan bahwa di biara-biara lain, ruang skriptorium menjadi satu dengan ruang penyimpanan buku.

Dalam kehidupan religius di biara Abad Pertengahan, masalah kenyamanan sudah menjadi suatu kebutuhan. Ruangan yang disebut skriptorium pada novel tersebut memiliki konsep yang sama dengan ruang baca. Perabotan yang terdapat di ruangan tersebut adalah 40 meja tulis dan kursi untuk setiap rahib yang bekerja yang diletakkan di sepanjang dinding. Masing-masing meja diperlengkapi dengan peralatan tulis, seperti tempat tinta, pena bulu ayam lancip yang harus diruncingkan dengan pisau, batu apung untuk melicinkan perkamen dan penggaris. Di atas setiap meja terdapat jendela, jadi jumlahnya juga 40, yang memancarkan sinar terang. Tempat yang paling terang diatur sedemikian rupa dan disediakan khusus untuk ahli-ahli yang memerlukan penerangan lebih, yaitu ahli purbakala, ahli gambar, rubrikator danpenyalin buku. Buku dan peralatan menulis bisa ditinggalkan di meja masing-masing, untuk dilanjutkan keesokan harinya. Kenyamanan juga ditunjang oleh suhu yang hangat, sebab di pinggir ruangan terdapat pilar besar yang berfungsi sebagai cerobong asap yang berasal dari dapur di lantai bawah. Sementara itu, lantai ruang baca tersebut ditutupi oleh jerami, sehingga, selain menghangatkan ruangan, juga bisa meredam suara orang berjalan (halaman 171).


Posisi penting pustakawan 

Pustakawan mempunyai kedudukan yang tinggi dalam sistem sosial di dalam biara. Nilai kekuasaan digambarkan dalam diri pustakawan sebagai orang yang memiliki wewenang yang besar atas perpustakaan, sebab hanya dia yang berhak masuk ke dalam labirin perpustakaan. Selain itu, dari posisi tersebut, ia berhak menjadi kepala biara, yang disebut sebagai Abbas. Kekuasaan seorang Abbas adalah menguasai kehidupan para biarawan, biara itu sendiri dan kekayaan yang disimpan di gudang bawah tanah gereja, juga kekuasaan absolut di bawah Tuhan. Misalnya, ketika Abbas meneror William dengan mengatakan: “… Bruder William, kau melakukan suatu penyidikan atas mauku, dan di dalam batas yang sudah kutetapkan. Yang selebihnya, di dalam lingkup dinding-dinding ini, aku satu-satunya penguasa setelah Tuhan, dan demi kemuliaann-Nya.” Di halaman 50, disebutkan oleh Abbas bahwa pustakawan adalah penjaga Sabda Suci. Dalam novel ini, tingginya posisi pustakawan menjadi faktor penyebab terjadinya peristiwa pembunuhan di dalam biara tersebut, seperti yang dikatakan oleh William kepada Adso, di halaman 564: “… Dan sekarang kamu tahu mengapa saudara-saudaramu mencincang daging satu sama lain waktu mencita-citakan jabatan Abbas.” 


Kualifikasi bagi posisi tersebut sangat tinggi, yaitu harus rahib yang pandai, matang, bijaksana dan menguasai bahasa Latin dan Yunani. Ia harus mengetahui seluk-beluk perpustakaan, mulai dari rahasia yang tersimpan dalam setiap buku, menentukan siapa boleh membaca apa dan kapan ia boleh membacanya. Pengetahuan tersebut selain diperoleh dari hasil belajar sendiri, diberikan juga secara turun-temurun. Sistem suksesi posisi pustakawan yang diatur selama mungkin dan diturunkan secara turun-temurun, dimaksudkan untuk menjaga segala kerahasiaan yang tersimpan. Jangka waktu jabatan berlaku lama, seperti ketika Alinardo mengeluhkan bahwa 50 tahun yang lalu, pos pustakawan seharusnya jatuh ke tangannya, tetapi malah diberikan kepada Robert dari Bobbio. Dalam kurun waktu tersebut, kedudukan pustakawan hanya diisi oleh 2 nama, yaitu Robert – hanya sebentar karena sakit, dan diganti oleh selama Maleakhi dari Hildesheim, selama 30 tahun. Dalam sistem sosial ini, terdapat nilai kesetiaan, ketaatan dan kedisiplinan, khususnya dalam menjaga keutuhan rahasia yang tersimpan di dalam perpustakaan. Rahib-rahib penjaga perpustakaan maupun rahib lainnya memiliki tradisi patuh dan taat mengikuti peraturan-peraturan yang – seperti yang dikatakan Abbas di halaman 51 – disebut sebagai aturan tangan besi, baik dalam agama maupun dalam kehidupan biara dan sistem sosial yang ada. 

Beratnya tugas seorang pustakawan terpantul pada sosok pustakawan yang digambarkan sebagai seorang yang aneh dan menderita. Di dalam The Name of the Rose, rahib pustakawan Maleakhi dari Hildesheim digambarkan memiliki air muka yang ganjil, dengan tubuh jangkung dan kurus, kaki besar dan aneh. Wajahnya yang pucat mencerminkan suatu penderitaan, kesedihan dan kerasnya hidup. Dipertegas dengan mata besar dengan sorot yang melankolik dan tajam, pustakawan tersebut ditampilkan sebagai orang yang benar-benar membaktikan hidup untuk pekerjaan yang dipikulnya yaitu menyimpan seluruh pengetahuan yang ada di perpustakaan di dalam kepala. 


Sistem nilai budaya dalam konteks kepustakawanan

Sistem nilai budaya yang muncul dalam konteks kepustakawanan berkaitan erat dengan kehidupan tokoh-tokoh yang tinggal di sekitar kejadian, dalam lingkungan biara yang terletak di Italia Utara. Di dalam buku Pengantar ilmu antropologi, C. Kluckhohn[11] yang dikutip oleh Koentjaraningrat mengatakan bahwa variasi jenis nilai budaya bertumpu pada lima masalah dasar kehidupan manusia, yaitu hakikat hidup manusia, karya manusia, kedudukan manusia dalam ruang waktu, hubungan manusia dengan alam sekitarnya, dan hubungan manusia dengan manusia lainnya. 


Jika dikaitkan dengan dunia kepustakawanan, masalah dasar manusia yang pertama, yaitu mengenai hakikat hidup manusia, kebudayaan memandang bahwa untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, manusia harus menambah ilmu pengetahuan yang umumnya dapat diperoleh malalui buku. Dengan membaca buku, manusia dapat menguasai rahasia alam dan lingkungannya, mengolah pengetahuannya tersebut untuk menjalani dan beradaptasi dalam kehidupan. Di dalam masyarakat, nilai tersebut muncul dalam bentuk peribahasa seperti carilah ilmu sampai ke negeri Cina atau bangsa yang besar adalah mereka yang memiliki informasi. Dalam diri manusia, baik yang berbudaya lisan maupun tulis, rasa ingin tahu sudah merupakan sifat dasar manusia. Oleh sebab itu, untuk memenuhi kebutuhan tersebut dalam ilmu perpustakaan, pengelolaan ilmu menggunakan pedoman yang merangkum seluruh bidang pengetahuan dalam 10 bagian, mulai dari pengetahuan umum (kelas 000), filsafat, agama, sosial, bahasa, ilmu terapan, seni, dan sejarah (kelas 900). Tambahan pula, ilmu perpustakaan dan informasi mengidentifikasi berbagai jenis perpustakaan, yaitu perpustakaan umum yang koleksinya mencakup semua bidang ilmu, perpustakaan khusus dengan koleksi khususnya sesuai bidang yang digeluti oleh lembaga induknya, perpustakaan sekolah maupun perguruan tinggi yang memiliki koleksi di bidang akademis, serta berbagai pusat informasi lainnya. Dengan berpijak pada tujuan pencapaian kehidupan yang lebih baik melalui buku ini, dunia perpustakaan memegang nilai-nilai budaya yang berupaya untuk melayani pemenuhan keinginantahuan masyarakat dengan memudahkan segala akses ke perpustakaan dan juga menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat. Nilai budaya yang terlihat adalah nilai keingintahuan, pengembangan diri, dan lain sebagainya. 

Dalam masalah dasar manusia yang kedua yaitu masalah hasil karya manusia dalam kepustakawanan, sistem nilai budaya berurusan terutama dengan karya tulis manusia. Sebagian besar kebudayaan, terutama dari masyarakat yang berbudaya baca-tulis, memandang bahwa buku merupakan sesuatu yang penting sebagai sumber ilmu pengetahuan, sumber kebenaran (sekaligus kebohongan). Bukan hanya penting dalam meningkatkan taraf hidup seseorang, tetapi dalam masa-masa tertentu dan masyarakat tertentu buku dianggap penting sebagai simbol status. Penghargaan pada buku, terlihat pada sistem konservasi dan pelestariannya. Dalam sistem tersebut, pustakawan menciptakan berbagai prosedur pengawetan, mulai dari kebersihan buku, cara memperlakukan buku, penyimpanan, pengalihbentukan, serta penyebarluasan isi buku. Penyebarluasan informasi menyangkut hak manusia memperoleh informasi dan masalah sensor. 

Pada masalah dasar ketiga, yaitu kedudukan manusia dalam ruang waktu, kebudayaan yang berkaitan dengan kepustakawanan memandang penting semua naskah baik yang berasal dari waktu lampau, kini dan masa yang akan datang. Orientasi waktu tersebut juga mempengaruhi pembagian subjek dalam klasifikasi, terutama yang berkaitan dengan buku-buku sejarah. Masalah ini juga mempengaruhi dalam sistem layanan dan rancangan gedung perpustakaan. Di masa yang lampau, perpustakaan melayani masyarakat dalam jumlah relatif sedikit, dengan kebutuhan informasi yang tidak begitu beragam, dan juga mengolah sumber informasi yang konvensional. Tetapi di masa kini, dengan kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat, perpustakanaan dituntut melayani masyarakat majemuk dalam jumlah lebih banyak dengan kebutuhan informasi yang juga beragam, dari sumber informasi manual maupun elektronik. 

Masalah dasar hubungan manusia dengan alam sekitarnya, kepustakawanan memiliki kebudayaan yang sangat tergantung pada alam, karena berkaitan dengan kenyamanan yang diperlukan, baik bagi buku-buku atau koleksi lainnya di perpustakaan maupun kegiatan di perpustakaan. Bukan hanya iklim, udara dan kelembaban yang tidak sesuai yang dapat menimbulkan jamur sehingga memicu kerusakan buku, tetapi juga binatang, seperti tikus, rayap dan semut. Perpustakaan juga membuat berbagai peraturan dalam kegiatan rutin dan periodik, baik untuk pustakawan maupun pengguna perpustakaan, yang pada dasarnya untuk melindungi buku. Alam juga erat berkaitan dengan kegiatan yang terdapat dalam perpustakaan, yaitu mempengaruhi kinerja pustakawan dan mempengaruhi konsentrasi pada saat membaca. Selain merancang gedung yang bisa menghindari atau mengurangi ancaman alam, keindahan dan kenyamanan juga diprioritaskan. Lebih jau lagi, dalam banyak kebudayaan, kegiatan membaca dianggap sebagai ibadah. Salah satunya, ayat pertama dalam Kitab suci ajaran Islam mengharuskan umatnya membaca. Dengan demikian, nilai budaya di bagian ini mencakup nilai kebersihan, kedisiplinan, religius, keindahan, kenyamanan dan hidup selaras dengan alam. 

Terakhir, masalah hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam kepustakawanan.difokuskan pada pustakawan. Sistem nilai budaya jelas terlihat pada kode etik pustakawan yang mementingkan etika layanan. Nilai budaya yang muncul adalah mementingkan kebutuhan masyarakat akan informasi, menjaga hubungan baik dengan masyarakat yang dilayani, juga menjaga hubungan antara sesama pustakawan. Nilai budaya yang terlihat adalah nilai kebersamaan, membantu sesama, keadilan, pendidikan, dan sebagainya. 

Nilai keindahan. Arsitektur gedung perpustakaan mencerminkan seorang arsitek yang cermat. Menurut Adso di halaman 96, konsep keindahan terletak pada gabungan antara integritas bagunan secara keseluruhan sehingga menciptakan kesempuranaan, proporsi tata ruang yang sesuai dan kejernihan serta cahaya di setiap ruangan. Kondisi gabungan tersebut memantulkan suasana damai dan tenang. Ia tidak hanya memiliki konsep keindahan – dengan membangunnya secara berliku-liku, tetapi juga memikirkan pelestarian koleksi secara alamiah. Pelestarian tersebut dilakukan dengan membuat lubang angin berukuran tertentu di mana aliran udara akan membuat ruangan tidak terlalu panas di musin panas dan tidak terlalu dingin di musim dingin. Dengan demikian udara akan menjaga keawetan buku-buku yang disimpan di dalamnya. Jendela-jendela yang berjumlah 40 di dalam skriptorium memencarkan cahaya yang indah.

Keingintahuan. Nilai ini merupakan sifat dasar manusia yang perlu dikembangkan. Dengan keingintahuan, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, dan secara tidak langsung dapat meningkatkan taraf hidup. Di dalam novel, nilai keingintahuan ditekan sedalam-dalamnya, seperti dikisahkan bahwa di masa lampau dalam kehidupan biara, para penyalin buku yang dicari adalah rahib yang hanya menyalin tanpa mampu memahami isi tulisannya. Bahkan mereka percaya bahwa terlalu banyak berbicara akan membuat dosa.

Di dalam novel ini, nilai keingintahuan yang sangat kuat digambarkan dalam berbagai peristiwa. Pertama, kehausan para rahib akan pengetahuan yang mencuri-curi masuk ke perpustakaan, ingin menemukan buku terlarang yang menyebabkan kematian tersebut. Kedua, dikisahkan bahwa perpustakaan tersebut dikunjungi banyak rahib dari berbagai negara, yang memiliki berbagai bidang ilmu, seperti ahli purbakala, ahli retorika, matematika, atau penyalin buku yang mahir. Penggambaran nilai yang berkaitan dengan keingintahuan juga direpresentasikan oleh para rahib-penulis yang ditugaskan khusus untuk menyalin buku. Di dalam cerita tersebut, meskipun peraturan menetapkan bahwa dalam menyalin rahib tidak boleh memahami apa yang ditulisnya, lama-kelamaan peraturan tersebut dipatahkan, kaena dorongan untuk selalu ingin tahu. Realitas tersebut dijadikan pemicu kejahatan dengan terjadinya peristiwa pembunuhan rahib. Jadi, selain sebagai sumber ilmu pengetahuan yang mencerahkan, perpustakaan di novel tersebut, halaman 244, juga disimbolkan seperti dunia bawah tanah raja neraka Hades. Keingintahuan yang terlalu besar dapat menyesatkan seseorang dan bisa fatal.

Nilai kebenaran. Masalah kebenaran merupakan sesuatu yang penting di dalam kepustakawanan. Seperti yang dikatakan di dalam novel ini secara terus-menerus bahwa perpustakaan adalah kesaksian terhadap kebenaran dan terhadap kekeliruan (halaman 173 dan 174). Demikian pula dengan pernyataan yang disampaikan oleh Venantius dari Salvemec yang memuja penyair besar Aristoteles yang menyatakan bahwa kebenaran lebih efektif jika disampaikan dengan ungkapan yang jenaka dan dalam bentuk permainan (halaman 110-111).

Nilai pendidikan. Pentingnya pendidikan dalam kehidupan para rahib ditunjukkan dalam kalimat Severinus kepada William di halaman 92, yang mengatakan bahwa biara tersebut adalah biara pertama yang menjadi tempat bagi komunitas sarjana. Di sana mereka berdiskusi dan bertukar pikiran tentang pengetahuan yang dikuasai, dan melakukan refleksi tentang injil suci. Selain itu, peraturan umumnya di dalam gereja bahwa rahib diwajibkan mengikuti misa dari pagi hingga petang, tidak diberlakukan bagi rahib yang sedang mengerjakan penyalinan buku. Mereka dibebaskan dari kewajiban ibadat pada siang hari di setiap hari Minggu (halaman 97). 

Nilai religius. Nilai ini tampak menonjol dibandingkan lainnya, karena setting karya fiksi ini di perpustakaan yang ada dalam lingkungan gereja. Masyarakat pada kelompok tersebut percaya bahwa menyalin sama dengan berdoa (halaman 244). Kegiatan menyalin tidak hanya dengan menuliskan kembali atau meringkas teks yang sudah ada, tetapi juga menggambari tepi buku atau perkamen dengan gambar-gambar mahluk yang tidak lazim, seperti kucing berkepala singa. Menyalin dan menggambar dikerjakan dengan tingkat ketelitian tinggi dan halus, dengan imajinasi yang didukung oleh pengetahuan tentang alam. Dengan demikian kegiatan tersebut dapat disamakan dengan gerakan dalam doa. 

Nilai kesetiaan dan kedisiplinan. Rahib-rahib yang ditugaskan menjaga perpustakaan melakukannya dalam jangka waktu yang lama, seperti yang dikisahkan, konon lebih dari 10 tahun. Rahib-rahib penjaga perpustakaan maupun rahib lainnya memiliki tradisi patuh dan taat mengikuti peraturan-peraturan yang ada, baik dalam agama maupun dalam kehidupan biara dan sistem sosial yang ada. Mereka dengan setia tetap menjalankan tugas sehari-hari dan dengan penuh disiplin menjaga keutuhan rahasia yang tersimpan di dalam perpustakaan. 

Nilai kegigihan dalam bekerja. Perilaku kegigihan diperlihatkan pada rahib-rahib yang melakukan pekerjaan menyalin. Mereproduksi dan menyebarkan pengetahuan merupakan salah satu tugas pustakawan yang penting. Di halaman 172, diceritakan bahwa di dalam udara dingin, tangan mereka membeku tetapi dipaksa menulis. Mereka merasa jarinya seperti habis diinjak-injak.

Etos kerja juga diperlihatkan dari pimpinan. Sebagai kepala biara, Abbas membebaskan rahib-rahibnya yang sedang bertugas menyalin untuk tidakmengikuti ibadat pada hari Minggu (halaman 92 dan 97). Selain itu, nilai ini juga tampak pada William yang pantang menyerah dalam penyelidikannya. Di halaman 222, ia berkata kepada Adso bahwa meskipun ia harus menghadapi 10 legiun dari neraka, ia akan tetap bertahan di biara tersebut hingga kasusnya terungkap.

Nilai ekonomis. Nilai ekonomis muncul dalam porsi yang amat sedikit di dalam novel ini dan berupa keinginan seorang rahib. Ia melihat ketimpangan yang terjadi antara pihak biara dan pihak istana. Sementara rakyat kelaparan, Raja dan kaum bangsawan bergelimang emas dari bisnis besar-besaran. Aymaro menginginkan biara dan perpustakaan dimanfaatkan untuk menghasilkan keuntungan. Rahib-rahib dapat memproduksi buku untuk dijual ke luar biara, tepatnya universitas-universitas, atau menerjemahkan teks berbahasa latin ke bahasa lokal (halaman 170). 

Dalam kaitannya dengan alur cerita pembunuhan di dalam The Name of the Rose, informasi mengenai semua aspek kepustakawanan di dalam novel yang begitu kaya ini mempunyai dua fungsi yang berlawanan. Fungsi pertama, kepustakawanan yang dijabarkan tersebut membentuk rambu-rambu atau petunjuk bagi penyelidik, seperti tulisan tangan dalam buku induk yang merefleksikan karakteristik pustakawan, atau buku katalog yang memuat semua judul buku di perpustakaan sehingga mengarahkan penyelidikan ke buku misterius. Fungsi kedua adalah menyesatkan pembaca. Misalnya, disebutkan bahwa kepala biara direkrut dari rahib yang mengepalai perpustakaan, tetapi ternyata Abbas yang akhirnya mati terbunuh itu bukan pustakawan, melainkan putra tuan tanah wilayah dimana biara tersebut berada (halaman 561). Kecurigaan awal bahwa Abbas sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap kematian para rahib pupus ketika membaca keterangan tersebut. Peraturan-peraturan terhadap penguna maupun pustakawannya yang ketat di dalam novel tersebut dimanfaatkan oleh Eco untuk memutarbalikkan cerita, sehingga cerita detektif tersebut lebih enak diikuti. Disebutkan bahwa pustakawan harus memiliki kualifikasi yang tinggi : pandai, bijaksana, dan menguasai seluruh koleksi yang disimpan di perpustakaan, tetapi ternyata pustakawan Maleakhi tidak seperti yang disyaratkan. Akibat keteledorannya tersebut, ia mau saja menerima – tanpa membacanya terlebih dahulu – dokumen-dokuemn rahasia dari kepala gudang, Remigio dari Varagine untuk disimpan di suatu tempat rahasia di perpustakaan. Di halaman 503, terungkap bahwa dokumen tersebut merupakan bukti kuat yang menyebabkan Remigio ditangkap karena dituduh melakukan pemberontakan. Sekuel yang tidak berhubungan langsung dengan alur cerita utama tersebut menambah suspensi cerita.

Sistem nilai budaya yang digambarkan dalam novel tersebut juga memperkuat ketegangan dalam cerita detektif tersebut. Di satu sisi para rahib memiliki nilai kedisiplinan, kegigihan dan kebenaran yang kuat, tetapi di sisi lain, mereka juga manusia biasa yang bisa berbohong atau terpaksa berbohong demi satu kepentingan. Pada halaman 150, Maleakhi mengatakan kebohongan bahwa buku-buku finis Africae sudah lama hilang, padahal sebenarnya buku-buku tersebut berada di ruang rahasia di dalam perpustakaan.


Penutup

Dapat disimpulkan bahwa The Name of the Rose berhasil menyisipkan informasi tentang semua aspek dan fenomena kepustakawanan Abad Pertengahan secara lengkap dan rinci. Informasi dalam novel tersebut bisa digunakan sebagai rujukan bagi pustakawan, akademisi, pengamat maupun masyarakat luas. Cakupan informasi kepustakawanan Abad Pertengahan dalam buku ini sangat komprehensif sebab dipahami dalam konteks sosial-budaya masyarakat gereja pada masa tersebut. Kepustakawanan dihubungkan dengan sistem nilai budaya, yaitu nilai keindahan, religius, kesetiaan dan kedisiplinan, dan nilai keingintahuan. Sebenarnya sudah ada sumber yang pernah membahas topik ini di Indonesia, yaitu yang ditulis oleh Sulistyo-Basuki dalam bukunya Pengantar ilmu perpustakaan (Gramedia Pustaka Utama, 1993), tetapi informasinya terbatas pada kepentingan akademik dan pustakawan. Novel tersebut mempunyai jangkauan pembaca yang lebih luas dan pembacaan yang lebih menarik daripada sebuah karya ilmiah.


Daftar Bacaan

Columbia encyclopedia, The. 2005. 6th ed. Diturunkan dari 
www.freeencyclopedia.com/htm/M/Melk.asp, tanggal 21 Februari 2005
Columbia encyclopedia, The. 1950. Third ed. Edited by William Bridgwater and 
Seymour Kurtz. New York: Columbia University Press.
Coulthard, Malcolm. 1985. An Introduction to discourse analysis. New ed. Essex: Longman.
Eco, Umberto. 2003. The name of the Rose. Diterjemahkan oleh Nin Bakdi Khuri. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Eriyanto. 2001. Analisis wacana. Yogyakarta: LkiS
Fairclough, Norman. 1995. Media discourse. London: Edward Arnold.
Hawthorn, Jeremy. 1985. Studying the novel: an introduction. London: Edward Arnold
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Layton, Robert. 1997. An introduction to theory in anthropology. Cambridge : Cambridge University Press.
Methods of text and discourse analysis. 2000. Stefan Titscher, Michael Meyer, Ruth 
Wodak and Eva Vetter. Translated by Bryan Jenner. London : SAGE.
Middle ages: a concise encyclopaedia: with 250 illustrations. 1989. Edited by HR. 
Loyn. London: Thames & Hudson.
“Riset dalam cerita rekaan”, Koran Tempo, edisi 12, Januari 2005
Sobur, Alex. 2001. Analisis teks media: suatu pengantar untuk analisis wacana, 
analisis semiotic, dan analisis framing. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Strategies for library administration : concept and approches. 1982. Littleton, Colorada : Libraries Unlimited.






[1] Makalah penelitian dipresentasikan pada Gelar Sastra Dunia, FIB-UI, Depok, 19-20 Juli 2005.
[2] Eco, Umberto. 2003: xviii
[3] Skriptorium adalah ruangan tempat para rahib membaca dan menyalin perkamen dan buku.
[4] Dalam istilah bahasa Inggris, kepustakawanan disebut librarianship, sementara di Amerika, disebut library science. Harrod’s. 1990: 370
[5] Columbia encyclopedia, 2005.
[6] Hawthorn, Jeremy. 1985: 1
[7] Riset. 2005.
[8] Bahan berasal dari kulit binatang yang paling halus. Kulit dibersihkan dari bulunya dan digosok dengan batu apung, lalu diempukkan dengan kapur dan diketam sampai halus. Halaman 103.
[9] Marginalia adalah garis margo yang diberi ilustrasi untuk mengomentari isi buku. Halaman xxv.
[10] Seni hispanik : karya-karya campuran, termasuk naskah kuno kitab wahyu.
[11] Hal. 191.




EmoticonEmoticon