Kamis, 19 September 2013

ROGER BACON DAN THE NAME OF THE ROSE Pemikiran Roger Bacon Bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan Modern Dalam Novel The Name of The Rose karya Umberto Eco

Tulisan ini dibuat untuk Mengenang Jasa Para Pendidik di Seminari Pius XII Kisol 

The Name of The Rose adalah sebuah novel yang mengisahkan tentang kehidupan biara pada abad pertengahan. Kekhasan novel in terletak pada bagaimana sang pengarang memadukan berbagai unsur untuk membuat pembaca sungguh-sungguh menyelami situasi abad pertengahan dengan segala seluk beluknya. Adapun unsur-unsur yang dimasukan antara lain filsafat, sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi, tradisi relilgius, politik, sastra dan terutama tokoh-tokoh dalam sejarah abad pertengahan yang menjadi tokoh dalam novel ini. salah satunya ialah Roger Bacon (1214-1294) yang memiliki peran penting bagi perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Lantas, yang menjadi pertanyaannya; seperti apakah pemikiran Roger Bacon menurut novel ini? sejauh manakah akibatnya bagi perkembangan Ilmu pegetahuan dan teknologi modern?

Roger Bacon

                                         
       The Name of The Rose adalah sebuah mahakarya yang kompleks enigmatik, berlapis-lapis, dan menawarkan bebagai kemungkinan tafsir terbuka. Ia bisa dibaca sebagai cerita detektif, cerita sejarah, permainan semiotik, ekperimentasi teks, parodi petualangan filosofis yang mencari kebenaran, atau apa saja. Novel ini adalah sebuah contoh eksperimentasi sastra bermutu yang menawarkan demikian banyak inspirasi bagi dunia sastra maupun dunia intelektualitas umumnya. 
       Melalui sebuah novel ada banyak pesan dan peran yang dapat disampaikan, seperti yang telah disampaikan oleh Bambang Sugiharto. Namun semuanya tergantung pada kemampuan pembaca dalam melihat, memahami dan mendalami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah karya sastra seperti novel ini.
     Novel ini merupakan catatan harian seorang biarawan pada abad pertengahan yang kemudian oleh Umbero Eco dikembangkan menjadi sebuah novel. Eco memasukan banyak tokoh sejarah abad pertengahan ke dalam novel demikian pula dengan gagasan-gagasan pemikirannya. 
      Salah satu tokoh yang sering disebut adalah Roger Bacon (1214-1294) seorang filsuf, ilmuwan dan biarawan fransiskan pada abad pertengahan. Ia dipenjarakan karena tulisan dan pemikirannya banyak bertentangan dengan arus pemikiran umum pada saat itu. Namun sebenarnya Roger Bacon termasuk salah satu peletak dasar ilmu pengetahuan dan teknologi modern saat ini. Hal ini disadari oleh Umberto Eco yang juga memasukan Roger Bacon sebagai sosok filsuf dan ilmuwan yang memiliki peran yang sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
      Tulisan ini bertujuan untuk semakin mengenal tokoh Roger Bacon terutama pada pengabdiannya pada usaha untuk mencari kebenaran bagi kebaikan bersama, penghargaannya pada bahasa dan kebebasan berpikir, kecintannya pada alam ciptaan dan keberaniannya untuk mempertanggungjawabkan apa yang ia perbuat. Selain itu penulis melihat bahwa pemikiran Roger Bacon masih sangat aktual untuk dipelajari pada masa kini. Penulis mengambil sudut pandang novel The Name of The Rose karena novel ini dapat menampilkan sosok Roger Bacon sebagai seorang yang cemerlang yang hidup pada masa itu.
      Adapun pada bagian awal penulis akan sedikit mengulas tentang kisah novel ini secara singkat dan setting novel ini. Kemudian penulis akan membahas secara singkat tentang Roger Bacon, serta bagaimana Umberto Eco melihat sosok Roger Bacon dalam novelnya dan bagaimana pengaruhnya bagi perkembangan dunia modern saat ini.

 Kisah Singkat The Name of The Rose

         Novel ini menceritakan tentang seorang novis Benediktin bernama Adso dari seorang Jerman. Ia bersama seorang Bruder fransiskan bernama William Baskerville (dalam bahasa Italia disebut Guglielmo), seorang Inggris dengan tradisi intelektual Oxford, ke sebuah biara Benediktin Melk. Dia datang ke biara itu dengan tugas untuk meneliti kasus kematian seorang biarawan muda (Adelmo dari Otranto, seorang Ilmunimator dalam perpustakaan) dan menjadi utusan raja dalam pertemuan yang diadakan di biara itu untuk mendamaikan antara kelompok Fransiskan (yang dekat dengan raja) dan kelompok Paus (dengan dukungan para Dominikan). Biara Benediktin Melk dianggap sebagai daerah netral dan Abbas-nya (pemimpin biara) yang bernama Abo diharapkan bisa menjadi mediator.
         Kemudian menyusul kematian lainnya yang semuanya oleh Wiliam dianggap ada kaitannya dengan perpustakaan biara itu. Pada hari keempat sebelum sempat Wiliam memecahkan misteri kematian berantai, ia menerima kedatangan Michele da Cessna. Michele da Cessna adalah seorang pemimpin Ordo Fransiskan yang pada Kapitel General Fransiskan tahun 1322 membuat Paus Yohanes XXII marah. Pada sore harinya delegasi Paus dari Avigon datang dengan anggota antara lain Kardinal del Pogetto dan tokoh inkuisisi Ordo Dominikan Bernard Gui (nama Italianya Bernardo Guadino). Paus menyatakan bahwa ia hendak berdamai, tetapi oleh para fransiskan ini dianggap sebagai sebuah perang yang menjebak. Pertemuan resmi diadakan antara dua delegasi dengan tema kemiskinan Kristus yang merupakan keputusan kapitel Perugia tahun 1322. Namun akhirnya pertemuan itu mengalami kegagalan karena pihak Paus Avigon menuduh salah seorang mantan fransiskan sebagai pelaku yang menyebabkan terjadinya pembunuhan berantai di biara itu. sekalipun demikian William berhasil masuk ke dalam perpustakaan biara itu yang menyimpan buku rahasia penyebab kematian berantai di biara itu.
           Dalam novel ini Eco memasukan tradisi keilmuan lainnya, terutama dari para pemikir Oxford. Sejumlah penafsir bahkan berpendapat (dan pendapat ini sangat beralasan) bahwa Willian Baskerville dalam The Name tidak lain adalah adalah personifikasi semangat keilmuan William of Ockham, yaitu “filsuf empiris, politisi fransiskan yang mengajar di Oxford dan yang, setelah dipanggil ke Avigon oleh Yohanes XXII dengan tuduhan bidah, berusaha mencari perlindungan di istanan Louis Bavarian dan menjadi pendukungnya. William of Ockham mengajar di Oxford dari tahun 1318 sampai tahun 1324 dan dikenal sebagai seorang nominalis. Ilmuwan lainnya yang mendapat tempat istimewa dalam tulisan ini adalah Roger Bacon, juga seorang biarawan fransiskan yang banyak melakukan penelitian eksperimental berkat bacaannya atas karya-karya ilmiah yang tertulis dalam bahasa Arab. Bacon juga mengajar di Oxford dari tahun 1240-1247. Seperti diketahui dalam sejarah Universitas Bologna menjadi pusat kajian hukum, Universitas Paris menjadi pusat kajian Teologi dan Oxford menjadi pusat kajian ilmu-ilmu Empiris. Dalam novel The Name, Biara Melk diimajinasikan sebagai focal point yang mempertemukan berbagai tradisi keilmuan itu dan dibumbui dengan kepentingan politik serta semangat keagamaan yang menyertainya. Dengan demikian, The Name bisa menampilkan gambaran dunia abad pertengahan selama ini, yaitu dunia yang ditata sesuai dengan Aristotelianisme yang sudah dikristenkan. 

 Gambaran Pemikiran Abad Pertengahan Secara Umum

      Adapun zaman patristik dan abad pertengahan dibagi atas zaman Patristik, permulaan skolastik, zaman keemasan skolastik dan kesudahan abad pertengahan.Penulis secara khusus membahas tentang zaman keemasan skolastik yang berlangsung dari awal abad 13 karena Roger Bacon hidup pada zaman ini dan juga mempengaruhi pemikiran zaman keemasan skolastik dan sesudahnya. 
      Pada zaman ini dihasilkan beberapa sintesa filosofis yang menyolok mata. Hal ini dimungkinkan karena sudah sejak akhir abad 12 timbul beberapa faktor baru yang sangat penting: 1) Universitas-Universitas didirikan; 2) Beberapa Ordo membiara dibentuk; 3) Sejumlah karya filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi yang sampai pada saat itu belum dikenal di dunia barat, ditemukan dan mulai digunakan dalam pengajaran di Universitas. Roger Bacon memiliki peran yang besar terhadap ilmu pengerahuan dan teknologi sebagian bersar juga karena perhatiannya atas karya-karya yang baru ditemukan ini khususnya yang berasal dari Arab.

 Universitas-Universitas 
          Universitas memiliki peran yang sangat besar dalam memajukan pendidikan. Sejak abad ke sembilan dimana-mana di Eropa didirikan sekolah-sekolah. Dalam pertengahan kedua abad ke 12 sekolah- sekolah di Paris jauh melampaui semua sekolah lain pada saat itu. sekitar tahun 1200 semua sekolah di Paris memutuskan untuk bersama-sama membentuk “universitas magistrorium et scolarium” (keseluruhan yang meliputi guru dan dan para mahasiswa). Keputusan ini berarti berdirinya universitas pertama. Mula-mula Universitas sebetulnya tidak lain daripada cara kerja sama antara sekolah-sekolah yang sudah ada. Universitas Paris itu memperoleh perlajuan khusus dari Gereja serta pemerintah dan dengan segera menjadi pusat intelektual yang terpenting di Eropa. Selama seluruh abad petengahan Universitas Paris menarik mahaguru-mahaguru dan mahasiswa-mahasiswa dari seluruh negeri di Eropa. Tidak lama setelah berdirinya Universitas Paris, ditegakkan Universitas di tempat lain juga misalnya di Oxford, Bologna (hukum), Cambrigde dan banyak kota lain lagi. Karya filsafat pada abab pertengahan selanjutnya hampir semua mempunyai hubungan dengan pengajaran di Universitas, berupa bahan kulilah atau diskusi. 

Ordo-Ordo Membiara 
       Faktor lain yang sangat mempengaruhi perkembangan hidup intelektual pada abad pertengahn ialah timbulnya beberapa Ordo membiara yang baru yaitu Ordo Fransiskan dan Dominikan. Ordo fransiskan didirikan oleh Fransiskus Asisi pada tahun 1209. Mula-mula mereka merasa ragu apakah mereka akan mencurahkan tenaganya dalam bidang intelektual atau tidak. Tetapi akhirnya studi diakui sebagai salah satu lapangan kerja bagi mereka. Seorang profesor di Universitas Paris Aleksander Hales pada tahun 1231 masuk Ordo fransiskan, tetapi ia tetap mempertahankan kedudukannya di Universitas Paris. Dengan demikian ia menjadi yang pertama dari sekian banyak profesor fransiskan yang mengajar pada Universitas-uniersitas pada abad pertengahan. Salah satu keunggulan para ilmuwan fransiskan ialah bakat mereka dalam observasi dan kepekaan untuk menafsirkan bukti. Kualitas ini hanya dapat ditemukan di kalangan fransiskan di lingkungan Universitas Oxford dan Universitas Paris, dan hanya setelah Roger Bacon dan lebih maju lagi ketika teori tentang tanda yang menjadi ciri khas para pengikut aliran William Ockham. Kedua tokoh ini memciptakan suatu karya literatur dan pandangan yang sama sekali berbeda pada zaman itu. Sedangkan Ordo Dominikan didirikan oleh Dominikus Guzman yang mewajibkan para pengikutnya untuk mencurahkan perhatiannya pada bidang studi teologi.

Penemuan Karya-Karya Filsafat Yunani
         Faktor yang paling penting untuk perkembangan intelektual pada umumnya dan untuk pemikiran filosofis dan ilmu pengetahuan lainnya ialah penemuan sejumlah karya filsafat Yunani, terutama karangan Aristoteles yang sampai pada saat itu belum dikenal dalam dunia barat. Ini menjadi titik tolak untuk pergerakan filosofis pada abad 13 yang boleh disebut Aristotelisme. Sampai kira-kira pertengahan abad 12 para pemikir skolastik hanya mengenal karya-karya Aristoteles tentang logika yang diterjemahkan Boethius ke dalam bahasa latin, lagi beberapa komentar tentang logika Aristotelian. Jadi mereka menganggap Aristoteles sebagai ahli dalam bidang logika saja dan sebetulnya mereka hanya mengenal sebagian karya-karya Aristoteles tentang logika. Sekitar pertengahan abad 12 situasi ini mulai berubah. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa pikiran-pikiran Aristoteles masuk ke dalam dunia barat melalui dua jalan yaitu secara langsung dan juga secara tidak langsung.
        Disebut jalan tidak langsung karena merupakan terjemahan dan juga sudah dipengaruhi oleh pemikiran dunia Arab. Karena pada abad kedelapan dan kesembilan kebudayaan Arab mewarisi banyak karya filsafat Yunani. Sejak saat itu dalam dunia Arab mulai berkembang suatu gerakan filosofis yang sangat penting. Tokoh-tokoh yang berperan penting ialah Ibn Sina (980-1037) yang nama Latinnya Avicenna dan juga Ibn Rushd (1126-1198) yang nama Latinnya Avevores. Keduanya menulis komentar atas karya-karya Aristoteles dan juga menyumbangkan peran yang besar dalam dunia filsafat, dan ilmu pengetahuan khususnya dari tradisi kedokteran dunia Arab karya kedua filsuf ini sangat berpengaruh pada pemikiran Roger Bacon. Sekitar pertengahan abad 12 karya-karya Aristoteles (bersama dengan beberapa karangan neoplatonis) diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Dapat diperkirakan bahwa terjemahan-terjemahan itu tidak selalu cocol dengan teks Yunani asli, tetapi semuanya memberikan prespektif yang sama sekali baru dalam dunia filsafat. Demikian pula dengan karya-karya filsafat Arab-Yahudi diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dengan itu dibuka untuk skolastik. Pada masa itu para biarawan memiliki peranan yang sangat besar dan tidak dapat digantikan dalam menerjemahkan semua karya-karya ini ke dalam bahasa Latin dari bahasa Arab semua ini dimungkinkan karena para biarawan merupakan para cendikiawan yang mempelajari bahasa Arab dan Yunani serta sangat menguasai bahasa Latin. Para biarawan ini juga yang mengembangkan pemikiran para filsuf arab secara lebih baik.
        Sedangkan jalan langsung karena karya-karya tersebut diterjemahkan langsung dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Latin. Hal ini terjadi sejak berlangsungnya perang salib. Terjemahan langsung dari bahasa Yunani diadakan sepanjang seluruh abad 13.
      Timbulnya beberapa faktor penting diatas dan juga masuknya karya-karya Arab dalam dunia barat sejak pertengahan abad 12 merupakan peristiwa yang penting sekali. Sampai saat itu dunia barat sama sekali diresapi oleh suasana agama Kristen. Pandangan dunia kristiani merupakan satu-satunya pandangan dunia yang dikenal sampai pada waktu itu. Dalam bidang ilmiah mereka mencari inspirasinya pada Agustinus. Tetapi ketika terjemahan-terjemahan baru mulai membanjiri dunia barat, situasi intelektual sama sekali berubah. Dunia ilmu pengetahuan yang sebelumnya seringkali bercampur dengan tahayul mulai mengalami perubahan ke arah eksperimen ilmiah sekalipun melalui proses yang cukup lama dan Roger Bacon termasuk tokoh yang memiliki peranan dalam proses ini. Ia memiliki peran yang sangat besar dalam mewarisi, menyelamatkan dan mengembangkan karya-karya pada ilmuwan Yunani dan Arab khususnya dalam ilmu filsafat alam.

Hidup dan Karya Roger Bacon

        Roger Bacon (1214-1294) adalah seorang ahli filsafat dan ilmuwan Inggris, pembaharu pendidikan, biarawan fransiskan, bapak ilmu pengetahuan modern. Bacon mengatakan bahwa Alkitab penting untuk memperkuat iman, tapi pengamatan, eksperimen, pengukuran, dan matematika, sangat penting bagi ilmu, dan penguasaan bahasa sangat penting dalam rangka menaklukkan ilmu pengetahuan. 
        Roger Bacon adalah salah seorang di antara biarawan Fransiskan yang terkenal di zamannya, atau lebih tepatnya, segala zaman. Bacon adalah seorang filsuf Inggris yang meletakkan penekanan pada empirisisme, dan dikenal sebagai salah seorang pendukung awal metode ilmiah modern di dunia Barat, meskipun studi-studi akhir menitikberatkan pada kepercayaannya terhadap okultasi dan tradisi alkimia. Bacon akrab dengan koleksi karya-karya ilmiah dan filsafat dari dunia Arab, yang dengan penaklukan dunia Arab atas Syria dan Mesir, mengendalikan akses ke banyak karya-karya masa lampau. 
         Bacon rajin sekali mempelajari beberapa bahasa, mesiu, ilmu kimia, astronomi, matematika, dan terutama optika. Karena pengetahuannya, sangat luas Bacon mendapat julukan Doctor Mirabilis yang artinya “Sarjana Yang Mengagumkan”. Atas perintah Paus Clement IV Bacon menulis buku semacam ensiklopedi dengan judul Opus Maius (Karya Besar) , Opus Minus (Karya Kecil), dan Opus Tertium (Karya Ketiga).
         Dalam buku itu antara lain Bacon berbicara tentang dasar-dasar pesawat terbang, kapal bermotor, kereta, kaca mata, teleskop, dan cara membuat mesiu. Bacon mengusulkan agar kurikulum di universitas-universitas diubah agar universitas tidak hanya mengajarkan filsafat dan teologi, tapi terutama pengetahuan eksakta. Bacon juga mencela cara berfikir yang spekulatif yang menghasilkan pengetahuan yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
       Bacon berasal dari keluarga kaya. Bacon lahir kira-kira pada tahun 1220 dan beberapa sumber mengatakan lahir pada 1214. Tempat lahirnya tidak diketahui dengan pasti mungkin di llshester, mungkin di Bisley. Masa kecilnya juga tidak kita ketahui. Pada umur 13 tahun Bacon masuk universitas Oxford. Pada zaman itu anak berumur 13 tahun memang dapat masuk universitas. Setelah kuliahnya selesai Bacon mengajar di universitas itu. Kira-kira pada tahun 1245 Bacon mengajar di Universitas Paris. Disana Bacon memberikan kuliah tentang Aristoteles.
       Dua tahun kemudian (1247) Bacon berubah haluan. Bacon mulai tertarik pada ilmu yang dapat dibuktikan kebenarannya, ialah ilmu yang diperoleh dari pengalaman, eksperimen, pengukuran, dan dapat dijabarkan, dalam matematika. Bacon segera mempelajari kimia, astronomi, matematika, dan Optika. Optika adalah cabang fisika yang mempelajari cahaya. Bacon lalu membuat semacam laboratorium. Bertahun-tahun Bacon menyelidiki bagaimana mata dapat melihat. Bacon mengadakan berbagai eksperimen dengan lensa dan kaca. Bacon mengadakan eksperimen di bidang kimia, yang pada waktu itu disebut alkemi. Akhirnya Bacon dapat memberikan petunjuk cara membuat balon udara dan mesiu.
        Bacon jadi mahsyur, tapi banyak musuhnya, karena Bacon suka melontarkan kritik yang pedas dan tajam terhadap para ahli teologi dan ilmuwan yang tidak pernah mengadakan pengamatan, eksperimen, dan pengukuran. Karena sikap Bacon yang menentang arus zaman, Bacon dijebloskan ke dalam penjara selama 14 tahun. Bacon baru dibebaskan kembali 2 tahun sebelum meninggal. Pada umur 80 tahun Bacon berpendapat bahwa daging tidak akan busuk bila dibekukan. Pada petengahan musim dingin, ketika udara sangat dingin, Bacon ingin membuktikan kebenaran teorinya. Bacon keluar dari rumahnya sambil membawa ayam mati. Ayam mati itu diisinya dengan salju. Karena Bacon sudah tua dan daya tahan tubuhnya sudah lemah, Bacon kedinginan dan menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Roger Bacon Dalam The Name of The Rose

       Umberto Eco dalam novelnya sungguh menyadari akan pentingnya peran Roger Bacon dalam melatakan dasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern. Umberto Eco selalu memuat komentar atas Roger Bacon melalui sang tokoh utama yaitu William Baskerville yang tidak lain adalah William Ockham, dalam novel ini tokoh William digambarkan memiliki tradisi pendidikan Oxford. Dan salah satu tokoh peletak dasar pendidikan Oxford adalah Roger Bacon sendiri sehingga William Baskerville (William Ockham) juga mewarisi dan mendalami tradisi pengetahuan Roger Bacon. 
      Penulis menyadari bahwa novel ini merupakan karya intertekstualitas dan seringkali memuat pernyataan yang disampaikan secara tidak langsung. Karena itu penulis hanya mengambil dan mengulas sudut pandang Umberto Eco yang membahas tentang Roger Bacon secara eksplisit, sekalipun sungguh terlihat dalam novel bahwa Umberto Eco juga memasukan keterangan dan percakapan tentang mesiu, hukum universal alam dan juga lensa yang merupakan karya monumental orisinal Roger Bacon. 

Pada bagian awal novel Umberto Eco langsung menetapkan posisi dari William, tokoh utama dengan sebuah kalimat langsung William:

        Rahib fransiskan di pulaunya adalah buangan dari cetakan lain:”Roger Bacon, yang kuhormati sebagai guruku, mengajarkan bahwa suatu hari kelak rencana Tuhan akan mencakup ilmu permesinan, yang merupakan keajaiban yang sehat dan alami. Dan suatu hari akan dimungkinkan, dengan mengarap kekuatan alam, untuk menciptakan peralatan navigasi yang dengan itu secara unik kapal akan berlayar Unico homine regente (manusia sajalah yang menguasai) dan jauh lebih cepat daripada kapal yang dijalankan dengan layar atau dayung; dan akan ada kereta yang bisa jalan sendiri dan ‘benda-benda terbang yang bentuknya sedemikian rupa sehingga ada orang yang duduk di dalamnya dengan memutar suatu alat, bisa mengepakkan sayap tiruan, ad modum avis volantus (menurut cara burung terbang). Benda amat berat dapat diangkat dengan peralatan kecil dan akan ada kendaraan yang bisa membuat kita melakukan perjalannan di dasar lautan……dan jembatan-jembatan dapat dibangun menyeberangi sungai tanpa kolom atau penyangga lainnya, dan mungkin juga akan ada mesin-mesin lain yang belum pernah disebutkan. Tetapi tidak usah cemas jika mesin-mesin itu belum ada, karena itu tidak berarti tidak akan ada. Tuhan menghendaki mesin-mesin itu ada dan sudah jelas ada dalam pikiran-Nya. Aku menghormati Roger Bacon lebih daripada yang lainnya... “yang berbicara dengan jelas dan kalem tentang Antikristus, dan menyadari datangnya kerusakan dunia dan merosotnya cara belajar. Bagaimanapun juga, ia mengajarkan bahwa hanya ada satu cara untuk bersiap menghadapi kedatangnya: mempelajari rahasia-rahasia alam, menggunakan ilmu pengetahuan untuk memperbaiki ras manusia. kita bisa siap memerangi Antikristus dengan mempelajari sifat-sifat tetumbuhan yang menyembuhkan, sifat batu-batuan, dan bahkan dengan merencanakan mesin terbang yang membuatmu tersenyum.. 


           Dari kutipan di atas, Umberto Eco menjelaskan bahwa Roger Bacon dalam karya-karyanya telah meramalkan bahwa suatu saat perkembangan teknologi akan mencakup hal-hal yang belum pernah dipikirkan sebelumnya (mesin-mesin dan alat-alat). Sesuatu yang mencolok dari Roger Bacon ialah ia meramalkan berdasarkan beberapa experimen dan pengamatan yang telah dia lakukan. Selain itu juga Bacon memberikan dasar-dasar teori ekperimental ilmiah atas semua yang dia ramalkan. Hal itu paling nampak misalnya dalam hal navigasi, penerbangan, optik , mesiu, transportasi dan beberapa teknologi lainnya. Bacon berpendapat bahwa tidak ada hal yang baru dari alat-alat dan mesin-mesin itu karena semuanya itu meniru cara kerja dari alam semesta, inilah yang oleh Roger Bacon disebut “Hukum Universal” dari alam semesta, yang menyatakan bahwa semua hal bekerja menurut aturan yang telah ditetapkan oleh alam itu sendiri. Menurutnya manusia hanya perlu mendalami, mengamati dan mempelajari aturan hukum universal ini untuk dapat digunakan demi kemajuan manusia itu sendiri. Penelitian, pengamatan dan ekxperimen Roger Bacon inilah yang menjadi dasar pemicu lahirnya pengembangan teknologi pada abad-abad selanjutnya. 
        Satu hal yang juga sangat menarik ialah Roger Bacon mengaitkan semua karya yang ciptakan dengan konsep teologis dan juga moral. Roger Bacon juga seperti halnya para penulis fransiskan lainnya selalu memasukan kedua aspek ini. Penulis melihat bahwa kedua aspek ini justru yang membuat Roger Bacon nampak lebih menonjol daripada para ilmuwan lainnya. Bagi Roger Bacon belajar merupakan salah satu kewajiban manusia dalam usaha untuk menyelami dan meyingkapi ciptaan Tuhan dan dengan demikian seorang manusia semakin menyadari bahwa Tuhan benar-benar Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Berkaitan dengan moral dalam novel ini Umberto Eco menyimpulkan salah satu bagian dari karya Roger Bacon yang diucakan oleh William:



Dan akhirnya, seperti sudah diperingatkan oleh Roger Bacon yang Agung, rahasia ilmu pegetahuan tidak harus selalu disampaikan kepada semua tangan, karena ada yang bisa menggunakannya untuk tujuan jahat. Orang terelajar itu sering membuat ajaib buku-buku tertentu yang tidak berkekuatan gaib, namun sekadar ilmu pengetahuan yang baik, dengan tujuan melindungi buku-buku itu dari mata yang tidak bijaksana...

       Hal di atas merupakan komentar William mengenai masalah mesiu yang pada masa itu masih menjadi misteri di dunia pengetahuan Barat. Namun Roger Bacon telah meneliti mesiu dan malah menulis formulanya, tetapi kemudian formula ini disembunyikannya karena kawatir akan digunakan untuk tujuan jahat dan merusak. Penelitian tentang karya Roger Bacon atas mesiu justru baru ditemukan beberapa abad sesudahnya.

Mengenai masalah politik dan Moral Umberto Eco menulis tentang Roger Bacon:

               Kebenaran orang biasa sudah berubah menjadi kebenaran orang berwewenang...... Bagaimana caranya agar kita tetap dekat dengan pengalaman orang biasa, maksudnya, mempertahankan kebajikan operatif mereka, kapasitas untuk berusaha mengubah dan memperbaiki dunia mereka? Ini masalah bagi Bacon. “Quod enim laicali ruditate turgescit non habet effectum nisi fortuito,’ katanya: ‘Pengalaman orang biasa punya akibat yang liar dan tidak terkendali. ‘Sed opera sapientiae certa lege vallantur et in fine debitum efficaciter diriguntur.’ Yang maksudnya, bahkan dalam menangani hal-hal praktis, entah itu pertanian, mekanik, atau memerintah sebuah kota, diperlukan semacam teologi. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan alam baru seharusnya jadi upada hebat baru dari orang terpelajar: untuk mengoordinasi, melalui pengetahuan lain tentang proses alam, kebutuhan elementer yang juga mewakili tumpukan harapan, kacau tapi betul dan tepat caranya, dari orang biasa itu. ilmu baru itu, keajaiban alam baru. Menurut Bacon harus diupayakan oleh gereja, aku yakin ia mengatakan ini karena pada zamannya, komunitas pejabat gereja disamakan dengan komunitas orang terpelajar. Sekarang tidak lagi begitu: orang terpelajar di luar biara dan katedral semakin banyak, bahkan di luar universitas. Jadi kupikir, karena aku dan teman-temanku sekarang percaya bahwa bukan gereja yang seharusnya mengatur manajemen masalah manusia, tetapi sekumpulan orang, maka di masa depan, komunitas orang terpelajar akan harus mengusulkan teologi baru dan manusiawi yang berupa filsafat alam dan gaya tarik positif ini” 

        Bagi Roger Bacon kaum terpelajar, pemerintah dan penguasa (dalam hal ini gereja) justru seharusnya menjadi pengerak dalam menciptakan sebuah masyakat yang maju. Kaum terpelajar memiliki tanggung jawab atas ilmu yang dimilikinya. Namun satu hal yang pasti kaum terpelajar juga harus memiliki moral dan iman yang benar kepada Tuhan (aspek teologis). Dapat disimpulkan bahwa segala karya yang dihasilkan bukan karya yang tidak bermutu atau dibuat hanya bersifat fungsional tanpa kandungan iman dan moral untuk membangun manusia. Menurut penulis justru kualitas ini yang jarang dimiliki oleh sebagian besar pemakai ilmu pengetahuan, pemakai teknologi dan para peneliti kaum terpelajar) pada masa modern ini. Malah Roger Bacon seorang peintis pemikiran ilmiah modern sudah dapat memprediksi akibat yang akan ditimbulkan oleh sebuah teknologi dan ilmu pengetahuan. Bacon juga berpendapat bahwa semua ilmu pengetahuan saling berhubungan satu sama lain, tidak terpisahkan bahkan sebenarnya saling melengkapi.

Pada bagian lain Umberto Eco memuji Roger Bacon, melalui tokoh utamanya William Baskerville:

Rasa haus Roger Bacon untuk pengetahuan bukan berahi: ia ingin menggunakan ilmu pengetahuannya untuk membuat rakyat Tuhan lebih bahagia, dan karenanya ia tidak mencari pengetahuan untuk dirinya sendiri. 

       Dapat dikatakan menurut Umberto Eco bahwa Roger Bacon, memiliki beberapa keunggulan; sebagai seorang Teolog, filsuf dan juga ilmuwan yang rendah hati.
       Salah satu pendapat Roger Bacon yang brilian adalah komentarnaya mengenai bahasa. Dalam Opus Majus Roger Bacon membahas masalah ini dengan cukup teliti. Bagi dia bahasa adalah sesuatu yang sangat penting bagi perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan

Ya, jika kau tahu sedikit bahasa Arab. Risalah terbaik tentang kriptografi adalah karya para sarjana penyembah berhala, dan aku bisa minta seseorang di Oxford membacakannya. Bacon benar ketika mengatakan bahwa penaklukan ilmu pengetahuan akan tercapai melalui pengetahuan tentang bahasa-bahasa.. 
“Persis; dan kau tahu bahwa Bacon betul. Belajarlah! Tetapi kita tidak boleh berkecil hati.

....Bacon betul: tugas pertama ilmuwan adalah belajar bahasa..

       Hal ini dapat dipahami dengan lebih baik jika disadari bahwa pada masa itu, terjadi transisi ilmu pengetahuan dari Arab ke dunia barat, sehingga para ilmuwan harus dapat mengatahui bahasa Arab, dan Yunani untuk dapat memahami karya-karya tersebut. Namun ide dan gagasan ini akan masih tetap berlaku hingga saat ini. kenyataan bahwa bahasa adalah sesuatu yang sangat mendasar dalam mempelajari ilmu pengetahuan tidak dapat dipungkiri oleh siapapun juga.
     Ada dua hal yang disinggung oleh Umberto Eco tentang karya Roger Bacon, yaitu mengenai ketertarikan Roger Bacon pada kegunaan magnet dan juga mengenai dunia penerbangan. Pada masa itu di dunia barat kedua hal ini belum dikenal secara luas khususnya mengenai penerbangan, tetapi Bacon sudah meletakan dasar bagi penelitian dan pegembangan selanjutnya tentang masalah ini. Bacon juga dalam karyanya banyak menulis risalah tentang kedua hal ini:

.....batu yang menarik besi. Dan itu dipelajari oleh Bacon.. 

Setelah kubah aedificium itu terbuka dan dari surga turunlah Roger Bacon naik mesin terbang, unico homine regente... 
        Peneliti pertama yang serius mempelajari tentang penerbangan adalah Roger Bacon. Pertama-tama ia membuat prototipe dari balon terbang yang diisi oleh gas Hidrogen. Kemudian merancang model pesawat terbangnya yang disebut Ornithopher. Mesin ini kemudian dikembangkan lebih lanjut pada abad-abad sesudahnya, dan kemudian mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam perang dunia pertama dan perang dunia kedua. Peranan pesawat terbang hingga kini merupakan salah satu pendukung sekaligus contoh dalam perkembangan yang tidak tergantikan dalam ilmu pengetahuan modern. Dalam hal ini Roger Bacon dapat disebut sebagai peletak dasar ilmu pesawat terbang modern. 
      Roger Bacon memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dia juga yang menganjurkan agar kegunaan keduanya dipelajari secara luas dalam Universitas. Dia bahkan menyusun sendiri kurikulum tentang studi Universitas. Peranannya yang besar inilah yang meletakan dasar bagi penelitian dan pengembangan ilmu sains modern dan juga teknologi dalam universitas khususnya Oxford dan Paris kedua Universitas yang memiliki peran yang sangat besar bagi ilmu pengetahuan abad modern.
        Bagaimanapun juga karya dan gagasan-gagasannya masih sangat aktual bagi perkembangan zaman ini. Ia termasuk salah satu tokoh awal yang meletakan landasan dan metode pemikiran ilmiah di dunia barat yang menolak gagasan-gagasan spekulatif yang tidak dapat dibuktikan dan seringkali bersifat menyesatkan dalam konteks zaman itu. Bacon bersama para pemikir fransiskan lainnya mencurahkan banyak tenaga pada perkembangan hal ini khususya kepekaan pada keajaiban alam. 
       Apresiasi dan pengabdian Roger Bacon pada ilmu pengetahuan telah menghantar umat manusia pada zaman yang lebih modern. Hingga saat ini Pesawat terbang, kacamata, teleskop, mesiu, mesin-mesin lainnya merupakan contoh dari sebagian besar karyanya yang kini memberikan peranan yang sangat besar bagi perkembanga dunia modern.

Penutup

       Sebuah Novel merupakan sebuah karya sastra yang juga memiliki pesan-pesan yang hendak disampaikan. Novel The Name of The Rose adalah sebuah novel yang memberikan beberapa pesan yang disampaikan kepada para pembaca. Salah satu metode penyampaian pesan itu ialah melalui tokoh-tokoh yang ada dalam kisah novel, dalam konteks novel ini Roger Bacon adalah salah satu tokoh sejarah nyata yang memberikan pengaruh besar pada jalan cerita novel karangan Umberto Eco ini.
        Roger Bacon (1214-1292) dalam novel ini dipandang sebagai sosok ilmuwan, filsuf dan teolog yang dalam zamannya telah memberikan pandangan dan pemikiran yang brilian tentang dasar ilmiah teknologi dan ilmu pengetahuan selain itu juga memberikan landasan moral dan iman tentang kedua hal ini. Dedikasinya pada ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan sumbangan yang sangat besar pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri.
      Bagaimanapun juga pemikiran dan karyanya masih sangat aktual hingga kini terlebih mengenai pemecahan untuk menjembatani masala antara teologi, moral dan teknologi seperti masalah yang akhir-akhir ini muncul seperti clonning, kontrasepsi dan bayi tabung. Roger Bacon telah meletakan dasar yang sangat baik untuk kita pelajari.
     Penulis menyadari bahwa karya ini masih sangat jauh dari sempurna. Karena itu masih ada banyak hal yang perlu digali lagi mengenai sosok Roger Bacon salah satunya dengan mengulas peranan Roger Bacon menurut karya-karya sastra berkualitas seperti novel The Name of The Rose. Semoga karya ini membantu dalam mengenal sosok Roger Bacon dan pemikirannya.
(Ditulis pada tahun 2011 di Novisiat OFM Transitus Depok)

Daftar Pustaka

Sumber Utama:

Eco, Umberto. 2008. The Name of The Rose (Penerjemah Nin Bakdi Soemanto). Yogyakarta: Bentang

Sumber Lain:

Bertens, K. 1983. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius

Eco, Umberto. 2004. The Name of The Rose (Penerjemah Ani Suparyati dan Sobar Hartini). Yogyakarta: Jalasutra

Haft, Adele. Jane White, Robert White. 2008. The Key To “The Name of The Rose”. Yogyakarta: Jalasutra
Encyclopedia Americana Vol 2. 1972. New York: Americana Corporation

----------------------------- Vol 11. 1972. New York: Americana Corporation

----------------------------- Vol 16. 1972. New York: Americana Corporation

----------------------------- Vol 18. 1972. New York: Americana Corporation

----------------------------- Vol 25. 1972. New York: Americana Corporation

The World Book Encyclopedia Vol 1. 1993. London: World Book

------------------------------------- Vol 2. 1993. London: World Book

------------------------------------- Vol 14. 1993. London: World Book

www.wikipedia .org (Diunduh pada tanggal 1 Juli 2010)



Oleh :Ntangis Waling





















EmoticonEmoticon