Minggu, 22 September 2013

Saya malu menjadi orang Manggarai

   Ada beberapa orang yang pasti tersingggung atau hanya sekedar tergelitik melihat saya mengeposkan hal ini. Namun sejujurnya dalam beberapa hal memang saya harus mengakuinya dalam beberapa kasus saya malu menjadi orang Manggarai. 



Sunrise di Waerebo
Credit: Tripadvisor
                         


        Pada tahun 2009 ketika saya berada di Yogyakarta saya bertemu dan berkenalan dengan beberapa orang yang sebagian besar dari mereka berasal dari wilayah Indonesia bagian barat. Saat saya memperkenalkan diri sebagai orang Manggarai selalu saya mendapati kerutan wajah yang menandakan ketidak-mengertian, dan selalu muncul pertanyaan “dimana itu?” kembali saya melanjutkan penjelasan tentang Pulau Komodo yang sungguh sangat menolong saya walaupun sedikit. Dan kemudian mulai kembali dengan pertanyaan lanjutan “kok Putih?” dan saya kelabakan.
        Hal yang kurang lebih sama saya alami juga di Jakarta, kota metropolitan tercinta ini, bukan hanya sekali melainkan berkali-kali. Hal ini memunculkan keraguan di dalam diri saya “Mengapa hal ini terjadi? Pasti ada yang salah..” saya yakin beberapa diantara kita pasti mengalami hal yang sama, sebuah perasaan asing, perasaan tidak dikenal dan tersisihkan. Sejenak melihat ke belakang seandainya saja Komodo tidak berada di daerah Manggarai, pasti akan lebih banyak kesulitan yang akan alami untuk menjelaskan dari mana saya berasal.
      Untuk menjelaskan tentang sebuah daerah kita butuh sesuatu hal yang unik dari daerah tersebut yang dapat menghantar orang lain dengan mudah menemukan daerah tersebut dalam peta pikiran mereka. Dalam hal ini (Manggarai) saya sendiri merasa kesulitan menjelaskan tentang daerah dari mana saya berasal, adakah hal yang menarik dari Manggarai selain Komodo yang membantu orang untuk dengan mudah mengenal Manggarai?
        Tahun-tahun belakangan ini berita tentang Manggarai kembali muncul ke permukanan walaupun hanya sebagai sebuah sentilan kecil bahwasanya di Manggarai ditemukan sebuah hal unik yang tidak terdapat di belahan dunia manapun yaitu Homo Florensiensis atau manusia hobit dari Flores. Sebuah penemuan besar yang mengoncangkan berbagai kalangan khususnya kalangan Arkeologi. Penemuan ini yang mengungkapkan beberapa mata rantai yang hilang dan tentu saja menghantar ke beberapa penemuan-penemuan arkeologis lainnya. Tentu saja hal ini mengangkat Manggarai semakin dikenal orang dan tentu saja saya senang bahwasanya hal ini mempermudah saya untuk menjelaskan daerah Manggarai tempat saya berasal.
         Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang asing yang memiliki ketertarikan khusus tentang Homo Florensiensis, dan dia bertanya beberapa hal seputar Hobit Flores dan saya sama sekali tidak tahu apa-apa selain bahwa hobit ini berasal dari Manggarai. Dan orang asing ini menyayangkan bahwa hampir tidak ada orang Manggarai yang pernah tahu dan sadar betapa pentingnya daerah mereka, betapa pentingnya peninggalan yang berserakan di pelataran rumah mereka, betapa tingginya kebudayaan mereka, betapa kayanya hasil pertanian mereka, betapa berharganya aneka satwa dan tumbuhan langka yang hampir musnah yang berada di sekeliling mereka. Dan kali ini saya merasa malu menjadi orang Manggarai karena hampir sama sekali tidak mengenal tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan dan hampir sama sekali tidak mendalami Ibu tempat saya lahir, dibesarkan, dan tempat menghabiskan masa kecil saya.
        Keprihatinan ini saya sampaikan karena sangat sediikit dan bahkan tidak ada orang Manggarai yang secara khusus mempelajari tentang begitu banyak kekayaan Manggarai. Anda tertarik?






EmoticonEmoticon