Selasa, 29 April 2014

SosMed (Sosial Media) Kota Ruteng


Good morning selamat pagi,,good pagi selamat morning,,,masih bersama saya elso yang akan menemani anda sampai pukul 10 pagi,,apa kabar ende, ema, ase kae, wan koe, etan tua,,ojekersss, angkuterss,,bersama kala tahang, raci,,,,bla..blaaaa blaaa,,,

          Itu sepengal kalimat dari penyiar radio BSfm Ruteng,,,semuanya masih terekam jelas dalam ingatan, karena menjadi satu-satunya hiburan yang paling menyentuh saat menjalani liburan di Ruteng sewaktu masih bersekolah di Seminari Kisol,,saat itu sekitar tahun 2008 radio fm menjadi satu-satunya sosial media yang paling cepat dan paling murah di kota Ruteng. Sekarang sudah pasti ada banyak perubahan drastis. Sekarang banyak orang Ruteng/ masyarakat manggarai yang tinggal di manggarai memiliki  facebook (ranga ka ye),,twitter (burung cik),,instagram (versi narsis dari radiogram), path, dan masih banyak lagi sosial media lainnya,,informasi pun mengalir dengan deras dan cepat, apa yang terjadi di Labuan Bajo dalam tempo sepersekian menit bisa langsung diketahui oleh orang di Borong, Ruteng dan belahan dunia lainnya. Begitu juga dengan kejadian di belahan dunia lain, saya senang sekaligus bangga karena Manggarai secara umum sudah turut berperan dan memasuki  "Global Village", terlepas dari banyak orang di luar Manggarai yang sampai saat ini hanya mengenal Manggarai sebagai "Village", yang tidak meng-Global.
Nendong Blogspot
Radio National

    Saat itu ada beberapa radio fm di kota kecil Ruteng,,BSfm, Lumen-2000, RSPD (Radio Suara Pemerintah Daerah), ada juga NG (katanya Ntala Gewang/Ntala GeraK). Namun bagaimanapun juga karena masih menggunakan frekwensi fm terbatas hanya pada beberapa daerah tertentu yang tidak dihalangi oleh gunung dan bukit-bukit penghuni pertama Tanah Kuni agu kalo (Manggarai) radio fm inipun tidak menjangkau "Manggarai" sepenuhnya. Jauh beberapa dekade sebelumnya RSPD menjadi Sosial Media yang merangkul semua tanah Manggarai, dan memonopoli berita yang tersebar ke seluruh Manggarai, maklum RSPD menggunakan frekwensi AM (Milik Pemerintah) sehingga bisa menembus hutan-hutan pedalaman Manggarai dan menjangkau desa-desa dan kampung-kampung pedalaman. Radio merk "National" dengan berbagai ukuran menjadi pemandangan biasa di pedalama Elar, Benteng Jawa, Sita, Mukun, Waling, Biting, Tilir, Colol, Lembor, dan beberapa tempat lain yang jauh dari jangkauan. Batere merk ABC pun menjadi barang wajib bapak-bapak di Desa dan malah naik statusnya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan Primer. Dari sumber RSPD yang sama para bapak-bapak ini bisa mendapat bahan diskusi seputar politik.

    Beruntung saya masih berada di Zaman sebelum signal hp masuk Manggarai, zaman-zaman keemasan Radio RSPD. Saat itu ada dua sesi siaran Radio yang paling ditunggu oleh semua orang tidak hanya oleh bapak-bapak, namanya sesi Radiogram (Nenek moyangnya Instagram), dan "berita duka". Dua sesi ini durasinya kurang lebih satu jam sehingga satu jam ini biasanya sebagian besar orang sibuk berada di depan pesawat radio mendengarkan Radiogram dan berita duka. Sesi Radiogram menyiarkan pesan dari sesorang yang dibacakan penyiar kepada seseorang lain di belahan kampung lain, penyiar lengkap membacakan Nama pengirim, alamat dan Isi pesan dan juga nama dan alamat penerima pesan. Isi pesannya macam-macam kehilangan, panggilan dsb.  Saat itu cara ini sangat efektif karena sekalipun penerima pesan tidak mendengarkan radio para tetangga yang mendengarkan pesan itu di radio memberitahukan pesan tersebut kepada orang yang seharusnya menerima pesan. Satu hal yang pasti, pesan pribadi tidak bisa disampaikan lewat radiogram. Cara membacakan radiogram pun memiliki kaidah bakunya sendiri,,sebagai contoh:

 "Radiogram dari anak Nadus, anak Nadus di Ruteng, ditujukan kepada, Bapak Blasius, Bapak Blasius di Desa Ranakulan Kecamatan Elar. Isi Radiogram: Harap bapak Blasius segera ke Ruteng untuk menjemput anak Nadus di Ruteng berhubung anak Nadus lupa jalan pulang ke Kampung, bagi siapa saja yang mendengar radiogram ini harap menyampaikannya kepada bapak Blasius..  

            Lain formatnya dengan Berita duka dan biasanya jauh lebih panjang,pernah suatu kejadian ada berita duka seperti ini: 

 Berita duka dari anak Pondik di Tilir ditujukan kepada, Om Nadus di Mukun, Anak Tina di Labuan Bajo, amang Nadus di Kisol, Inang Rimpet di Lambaleda, Kesa Riwek di Pong Ndode, Kesa kador di Satarmese, Om Tinus di Reo, Weta Dongki di Bitting-Colol, Nana Lipus di Tentang atau di Bahong, Tanta Timung Te'e di Pota Amang Lanur di Sita, Anak rona riwu, anak wina cibal, anak rona Lembor, segenap ase kae yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu di mana saja berada, Isi berita duka: telah meninggal dunia, anak, adik, kakak, Om kita tercinta Bapak Blasius, Bapak Blasius di Satarmese, harap segenap keluarga segera ke Satarmese. Dan bagi yang mendengarkan berita duka ini harap segera menyampaikan kepada alamat yang dituju. 

Nah ketika segenap keluarga yang disebutkan di berita duka bergegas ke Satarmese mereka mendapati Om Blasius masih sehat, segar bugar ternyata yang dimaksudkan adalah Blasius yang lain, maklum karena sejumlah besar orang Manggarai meliki kesamaan nama.

     Banyak pelajaran menarik yang saya petik, dari masa keemasan RSPD. Sekarang dengan kecanggihan smartphone, berita apapun bisa disampaikan dengan lebih tepat dan lebih cepat lagi. Entahlah saya kurang tahu persis apakah Sesi Radiogram dan Sesi Berita Duka ini masih ada dan masih seefektif dulu saya kurang tahu persis, yang pasti kenangan unik dan indah melewati pagi dingin yang indah bersama kopi, rokok Djitoe dan suara radio merk National yang menyiarkan radiogram RSPD masih selalu saya ingat dan saya kenang.



nendong.blogspot.com
National


Posted By  :Ntangis Waling Sanpio48
   

Kamis, 24 April 2014

Ata Wedol dan Orang Gila


Saya lahir dan besar di Kota kecil Ruteng,,kota yang indah,,ramah dan sejuk. Setiap pagi selalu dimanjakan dengan pemandangan gunung, hutan hijau dan hawa dingin yang menjadi maskot kota Ruteng. Nah, semenjak bersekolah di Seminari dan berada bersama teman-teman sanpio48 dari berbagai penjuru Manggarai memberi satu julukan tambahan yang disematkan pada kota kelahiran saya,,"Kota Orang Gila" begitu kata mereka. Mereka sering menyeletuk "Tiga hal yang menjadi ciri khas kota Ruteng kompiang, Dingin dan Orang gila". Percaya atau tidak lebih mudah menemukan Ata wedol (Orang Gila) di kota Ruteng dibandingkan dengan tempat-tempat lain di Manggarai. Semuanya komplit dari berbagai latar belakang, asal, usia dan jenis kelamin,,,saya sendiri belum mengelompokan mereka ke dalam kategori-kategori tertentu, dan yang jelas itu tidak penting.

nendong.blogspot.com
Ata Wedol


Masih berkaitan dengan orang gila, saat di  Seminari saya membaca buku Taiko karya Eiji Yoshikawa dan menemukan sebuah nasihat menarik "Prestasi-prestasi besar sering menyerupai tindakan orang gila". Dari titik ini Saya jadi sedikit ada perbedaan antara tindakan orang biasa/normal dan orang gila, ada sebuah kesimpulan sederhana saya ambil dari sini, orang besar/orang hebat adalah orang gila dan orang normal adalah orang biasa. Orang biasa/normal melakukan tindakan biasa dan bisa dipastikan hasilnya juga biasa-biasa saja,,sedangkan orang gila melakukan tindakan yang tidak biasa dan hasilnya luar biasa, luar biasa berhasilnya atau luar biasa hancurnya. Sebagai contoh Hitler ini termasuk dalam kategori orang gila, mengerakan perang dunia dan membinasakan jutaan orang, ini termasuk orang gila yang jahat sedangkan orang gila yang baik sebagai contoh Nelson Mandela, memperjuangkan kesetaraan kulit hitam, dipenjara 25 tahun dan setelah dibebaskan malah mengajak orang kulit putih bekerja sama  membangun Afrika Selatan dan dia menjadi presidennya. Untuk orang normal/orang biasa anda bisa tengok kiri dan kanan akan sangat mudah menemukan contohnya, seorang lahir biasa, menjalani masa kanak-kanak dengan biasa, hidup dewasa dengan biasa dan mati dengan cara biasa pula, padahal dia memiliki kemampuan untuk menjadi luar biasa.

Suatu ketika saat saya mencoba berjalan kaki sejauh 45 km dari di tengah hutan flores untuk menjawab tantangan ayah saya, teman-teman dan keluarga saya spontan menjawab "Gilaa!!! berani sekali!!!" dan ada juga yang menyeletuk "Wajar,,,dia khan dari Ruteng (banyak orang gilanya)". Dan kemudian saya sadari bahwa bertahan untuk melakukan sesuatu diluar "sesuatu yang biasa" sering mendapat julukan "gila" entah itu gila positif atau gila negatif. Jika saya atau anda memutuskan melakukan hal yang besar akan sangat wajar jika dianggap "wedol/gila" namun ini yang membuat kita bisa memberi "nyali" dan arti lebih dalam hidup yang begitu singkat. Hal ini juga yang membawa perubahan besar dalam cara kita menjalani hidup dan juga membedakan kita dengan "Orang Normal". Karena hanya "Ata wedol/orang gila" yang memiliki nyali untuk melakukan sebuah lompatan besar atau sebuah perubahan. Sedangkan orang normal akan sangat bertahan dalam cara hidup yang biasa, dalam jalur yang biasa, dan hasil yang biasa.

Nah, sekarang terserah anda, Masih mau disebut "orang Normal"  

nendong.blogspot.com
Ata Wedol

Senin, 07 April 2014

Film wajib ditonton orang Manggarai

         Saya sangat menyukai film perang ini karena ketertarikan saya terhadap sejarah. Sejarah banyak mencatat tentang perang, tentang bagaimana orang berjuang untuk mempertahankan hak untuk merdeka dan memperjuangkan kebebasannya. Dalam setiap perang biasanya lahir seorang pahlawan yang akan terus di kenal dari generasi ke generasi selanjutnya entah dia kalah ataupun menang, sang pahlawan akan selalu dikenang dan dihormati. Manggarai sangat beruntung memiliki pahlawan Motang Rua, yang kisah hidupnya sangat menarik untuk dihayati. Motang Rua menjujung tinggi sikap kesatria orang Manggarai "Pejuang/prajurit pantang mundur dari medan perang" walaupun akhirnya beliau terpaksa menyerah kepada belanda karena keluarganya telah disandera oleh pihak Belanda secara licik, memang seperti kata pepatah "Everything is fair in love and war"
nendong.blogspot.com
Motang Rua

         Beberapa waktu lalu saya mendownload sebuah film perang berjudul "The warrior of the seediq bale" perang antara penduduk asli taiwan berhadapan dengan penjajahan Jepang. Yang membuat film ini menarik adalah setting film, kualitas pengambilan gambar, pemain, bahasa dan juga jalan ceritanya sangat-sangat mirip dengan kisah sang Motang Rua. Yang menjadi semakin menarik ada sebuah plot yang menceritakan tentang "Mona Rudo" atau Motang Ruanya suku Seediq sewaktu ragu antara berperang dengan Jepang atau harus menerima nasibnya, saat itu Mona Rudo menyanyikan sebuah "Nenggo"  diajarkan oleh Roh almarhum ayahnya di air terjun, yang mengajarkan kepadanya untuk Menjunjung tinggi nilai keteguhan dan pantang menyerah dari para kesatria Seediq. Dapat saya bayangkan kurang lebih seperti itulah yang dulu dirasakan oleh Motang Rua, apakah dia hanya diam dan Sukunya selamat ataukah dia harus berjuang untuk mempertahankan nilai yang harus mengorbankan nyawa banyak orang. Selain itu taktik perang yang digunakan oleh Mona Rudo sangat mirip dengan Kraeng Motang Rua dalam menghadapi pasukan yang memiliki persenjataan sangat canggih,,pasukan dibagi menjadi tiga bagian besar kemudian diserang dengan cara dijepit di sebuah tebing curam lalu dibantai satu per satu. Kemudian Ada juga adegan dimana Jepang membakar kampung prajurit Seediq karena kalah dalam perang, bukankah dulu Belanda melakukan hal yang sama untuk kita orang Manggarai untuk memaksa Motang Rua menyerah?? Dan jangan lupa di film ini ada juga adegan "Langu Tuak" secara peh ite one mai bom toe ngitu to??
Ada begitu banyak kesamaan setting,,topi bulat yang dipakai oleh orang tua-tua kita dahulu,,mbako sampai kepada Tengge towe dan Kope
Film Manggarai
Warrior Of Seediq Bale

            Film ini meraih banyak penghargaan termasuk dari Academy Award untuk kategori film asing dan juga menjadi salah satu film yang banyak menuai pujian di Sundace Film Festival. Film ini wajib ditonton oleh Orang Manggarai, sekurangnya untuk memberi gambaran perjuangan Motang Rua, juga sedikit menyadarkan kita orang Manggarai "Modern" bahwasanya Kita sejak zaman dahulu kala telah memiliki Peradaban yang tinggi, entah dalam bidang pemerintahan, bahasa dan adat-istiadat. Manggarai sudah memiliki paham demokratis sejak zaman dahulu!! tidak usah jauh-jauh memandang ke Yunani buktinya silahkankan lihat saja "Nempung" di Mbaru gendang yang isinya perdebatan kritis dan argumen yang tajam dari Ema agu Om dite,,atau silahkan bandingkan sistem Panga, ata ngara tana dengan sistem Parlemen entah yang bersistem sekamar ataupun yang bersistem dua kamar,,dan silahkan nikmati nada-nada puitis dari tongka saat Weda rewa tuke mbaru,,,  Jika ase kae berkesempatan,,jangan lewati untuk mencari dan menonton filmnya,,
Film Manggarai
Seediq Bale


Oleh Ntangis Waling
Sanpio48