Senin, 07 April 2014

Film wajib ditonton orang Manggarai

         Saya sangat menyukai film perang ini karena ketertarikan saya terhadap sejarah. Sejarah banyak mencatat tentang perang, tentang bagaimana orang berjuang untuk mempertahankan hak untuk merdeka dan memperjuangkan kebebasannya. Dalam setiap perang biasanya lahir seorang pahlawan yang akan terus di kenal dari generasi ke generasi selanjutnya entah dia kalah ataupun menang, sang pahlawan akan selalu dikenang dan dihormati. Manggarai sangat beruntung memiliki pahlawan Motang Rua, yang kisah hidupnya sangat menarik untuk dihayati. Motang Rua menjujung tinggi sikap kesatria orang Manggarai "Pejuang/prajurit pantang mundur dari medan perang" walaupun akhirnya beliau terpaksa menyerah kepada belanda karena keluarganya telah disandera oleh pihak Belanda secara licik, memang seperti kata pepatah "Everything is fair in love and war"


Warriors of The Rainbow
Credit: Variety.com



         Beberapa waktu lalu saya mendownload sebuah film perang berjudul "The warrior of the seediq bale" perang antara penduduk asli taiwan berhadapan dengan penjajahan Jepang. Yang membuat film ini menarik adalah setting film, kualitas pengambilan gambar, pemain, bahasa dan juga jalan ceritanya sangat-sangat mirip dengan kisah sang Motang Rua. Yang menjadi semakin menarik ada sebuah plot yang menceritakan tentang "Mona Rudo" atau Motang Ruanya suku Seediq sewaktu ragu antara berperang dengan Jepang atau harus menerima nasibnya, saat itu Mona Rudo menyanyikan sebuah "Nenggo"  diajarkan oleh Roh almarhum ayahnya di air terjun, yang mengajarkan kepadanya untuk Menjunjung tinggi nilai keteguhan dan pantang menyerah dari para kesatria Seediq. Dapat saya bayangkan kurang lebih seperti itulah yang dulu dirasakan oleh Motang Rua, apakah dia hanya diam dan Sukunya selamat ataukah dia harus berjuang untuk mempertahankan nilai yang harus mengorbankan nyawa banyak orang. Selain itu taktik perang yang digunakan oleh Mona Rudo sangat mirip dengan Kraeng Motang Rua dalam menghadapi pasukan yang memiliki persenjataan sangat canggih,,pasukan dibagi menjadi tiga bagian besar kemudian diserang dengan cara dijepit di sebuah tebing curam lalu dibantai satu per satu. Kemudian Ada juga adegan dimana Jepang membakar kampung prajurit Seediq karena kalah dalam perang, bukankah dulu Belanda melakukan hal yang sama untuk kita orang Manggarai untuk memaksa Motang Rua menyerah?? Dan jangan lupa di film ini ada juga adegan "Langu Tuak" secara peh ite one mai bom toe ngitu to??
Ada begitu banyak kesamaan setting,,topi bulat yang dipakai oleh orang tua-tua kita dahulu,,mbako sampai kepada Tengge towe dan Kope

            Film ini meraih banyak penghargaan termasuk dari Academy Award untuk kategori film asing dan juga menjadi salah satu film yang banyak menuai pujian di Sundace Film Festival. Film ini wajib ditonton oleh Orang Manggarai, sekurangnya untuk memberi gambaran perjuangan Motang Rua, juga sedikit menyadarkan kita orang Manggarai "Modern" bahwasanya Kita sejak zaman dahulu kala telah memiliki Peradaban yang tinggi, entah dalam bidang pemerintahan, bahasa dan adat-istiadat. Manggarai sudah memiliki paham demokratis sejak zaman dahulu!! tidak usah jauh-jauh memandang ke Yunani buktinya silahkankan lihat saja "Nempung" di Mbaru gendang yang isinya perdebatan kritis dan argumen yang tajam dari Ema agu Om dite,,atau silahkan bandingkan sistem Panga, ata ngara tana dengan sistem Parlemen entah yang bersistem sekamar ataupun yang bersistem dua kamar,,dan silahkan nikmati nada-nada puitis dari tongka saat Weda rewa tuke mbaru,,,  Jika ase kae berkesempatan,,jangan lewati untuk mencari dan menonton filmnya,,

1 komentar so far

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.


EmoticonEmoticon