Jumat, 16 Juni 2017

Pola pemerintahan ke-Dalua-an (Sistim pemerintahan Kerajaan Manggarai)

 Dalam Masyarakat Manggarai memiliki sistem wilayah ke-Dalu-an  yang dipimpin oleh seorang Dalu (Toda 2007). Dalu adalah orang yang  berkuasa terhadap suatu wilayah dan bertanggungjawab terhadap Raja Manggarai (Kraeng Bagung dari adat Pongkor-Todo). Dalam pelaksanaannya Dalu dibantu oleh Glarang untuk mengambil hasil bumi  dari kampung-kampung yang ada di wilayah kekuasaannya. Dalam setiap  kampung terdapat Tua Adat (Tua Golo/Tua Panga) yang bertanggung  jawab terhadap hukum kampung dan kebijakan kampung.



Tarian Caci
Source:@badung24jam



Dalam  pelaksanaanya Tua Adat dibantu oleh Tua Teno yang mengatur masalah tanah dan tata krama masyarakat. Dalam pembagian tanah Tua Teno akan membagi tanah kampung secara Lingko (jari). Pembagian ini sesuai dengan jumlah anak laki-laki keturunan Bapak, dimana setiap Lingko ada ketua yang dinamankan Tua Lingko. Dengan demikian di daerah Manggarai pola penggunaan tanah (pertanian) akan berbentuk seperti jaring laba-laba 

Dalam masyarakat tradisional Manggarai terdapat 38 kedaluan (hameente), yakni : Ruteng, Rahong, Ndoso, Kolang, Lelak, Wotong, Todo, Pongkor, Pocoleok, Sita, Torokgolo, Ronggakoe, Kepo, Manus, Rimu, Welak, Pacar, Rego, Bari, Pasat, Nggalak, Ruis, Reo, Cibal, Lambaleda, Congkar, Biting, Pota, Rembong, Rajong, Ngoo, Mburak, Kempo, Boleng, Matawae, Lo’o dan Bajo. Dari setiap kedaluan  bersemi mitos atau kisah kuno mengenai asal usul leluhurnya dengan banyak kesamaan, yaitu bagaimana nenek moyangnya datang dari laut atau seberang, bagaimana nenek moyangnya turun dari gunung, menyebar dan mengembangkan hidup dan kehidupan purbanya serta titisannya. 

Ke-Dalu-an yang termasuk wilayah Manggarai Barat adalah Ndoso, Kolang, Wotong, Kepo, Pacar, Rego, Bari, Pasat, Nggalak, Ngoo, Mburak, Kempo, Boleng, Matawae, Lo’o dan Bajo. Dari 38 ke-Dalu-an ini, ke-Dalu-an Bajo dan Matawae memiliki beberapa perbedaan dari ke-Dalu-an lainnya. Perbedaan ini berupa tidak  adanya rumah adat (Mbaru Gendang) dan kesenian tradisional yaitu Tari Caci Hal ini menyebabkan para wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo kurang dapat merasakan nuansa kemanggaraian


EmoticonEmoticon