Sabtu, 23 September 2017

Asal-Usul Nama Manggarai Jakarta

Asalmula Nama Manggarai Jakarta



Manggarai.news... Banyak pihak yang bertanya-tanya apa hubungan antara Manggarai Jakarta dan Manggarai Flores? Saya pun sempat berpikiran sama. Bahkan sebagian orang berpendapat bahwa nama Manggarai di Flores diambil dari nama Manggarai di Jakarta. Namun berbekal beberapa pencarian mendalam rupanya nama Manggarai Jakarta memiliki sejarah yang cukup kelam terutama mengenai perbudakan pada masa kolonial Belanda.


Perbudakan di Manggarai


Jika melihat ke belakang tentang sejarah perbudakan di Manggarai ada beberapa sumber yang menjelaskan mengenai hal tersebut, sumber lisan dan juga sumber tertulis. Tentunya sumber tertulis memiliki keakuratan sejarah yang jauh lebih baik daripada sumber lisan. Namun pada faktanya sumber lisan yang diwariskan secara turun-temurun tidak dapat dikesampingkan. Kisah-kisah perbudakan tersebut juga dimasukan kedalam beberapa bentuk budaya baik lagu maupun peribahasa yang menjadi salah satu khazanah kekayaan budaya Mangarai.

Beberapa diantara kita mungkin pernah mendengar lagu Benggong? Salah satu lagu rakyat Manggarai. Ada banyak tafsiran atas makna lagu tersebut, salah satu tafsiran yang berkembang ialah bahwa lagu tersebut bercerita tentang perbudakan di Manggarai pada tempo dulu. Seperti yang ada dalam liriknya yang sarat akan makna kepedihan. Bahwa kemudian mereka akan diambil untuk dijual atau dijadikan upeti.

Mungkin ada diantara kita pernah mendengar istilah Rewung Taki Tana. Istilah Manggarai ini mengacu pada fenomena alam di Manggarai yang terjadi pada periode Juni-September dimana kabut menyelimuti seluruh area hingga ke permukaan tanah dan jarak pandang menjadi sangat pendek. Biasanya jika fenomena Rewung Taki Tana ini terjadi para orangtua melarang anak-anak bepergian atau bermain ke luar rumah. Hal ini erat kaitannya dengan sejarah Manggarai dimana pada saat kabut sering terjadi penculikan terhadap anak kecil (dan juga orang dewasa) yang nantinya akan dijual untuk dijadikan budak (wendo ata te taki mendi laing)

Ada beberapa sumber tertulis yang mencatat mengenai peristiwa perbudakan di Manggarai. Richard B. Allen dalam salah satu jurnal yang berjudul European Slave Trading in the Indian Ocean, 1500–1850 mencatat:

Tercatat bahwa pada periode 1620 hingga tahun 1830, Bali dan Pulau-pulau di sekitarnya diperkirakan mengeksport 100.000 hingga 150.000 budak. Beberapa tempat lain di Indonesia dan kepulauan Filipina seperti Alor, Buton, Manggarai, Mindanao, Sulu, Tawi-Tawi dan pulau Timor mengkonsentrasikan para budak di Makasar yang mana kemudian mereka diberangkatkan ke pasar budak besar seperti Aceh (Banda Aceh), Banjarmasin, Jambi, Palembang, dan Sukadena bahkan hingga Ayudhya di Thailand. Dimana kemudian para budak-budak tersebut setelah di beli dikirim oleh orang-orang Eropa ke India yang kemudian di berangkatkan melintasi samudra atlantik ke Amerika yang kemudian mereka dapat kembali bebas dengan berbagai alasan. Bahkan selama peperangan besar di Amerika orang Belanda membawa begitu banyak budak dari India ke Amerika untuk kepentingan peperangan.

Manggarai sebagai Pasar Budak


Rachmat, penulis buku "Asal-usul Nama Tempat di Jakarta" mengamini bahwa nama "Manggarai" di Jakarta sejatinya berasal dari para budak-budak yang diangkut dari Manggarai- Flores Barat sekitar tahun 1770. Alwi Shahab sejarahwan Jakarta juga membuat pernyataan yang sama bahwa tempat yang sekarang bernama Manggarai di Jakarta dulunya adalah pasar budak-budak yang dibawa dari Flores Barat. Hal ini erat kaitannya dengan Menteng Burt (Lingkungan Menteng) tempat tinggal para orang kaya Belanda pada Zaman kolonial. Di Manggarai Jakartalah tempat mereka membeli para budak untuk dijadikan Jongos dan Bedinde.

Budak-budak tersebut menamai tempat mereka dengan nama Manggarai, sebagai pengikat akan kenangan mereka dengan Tanah Kuni Agu Kalo (Tanah Tumpah Darah). Dari sini kita dapat belajar banyak hal. Sekalipun harga diri mereka direndahkan selayaknya binatang dan kemudian di perjual belikan, namun kenangan dan kebanggaan mereka kepada Manggarai sebagai tanah tumpah darah tidaklah pernah pudar. Walaupun mereka tersebar dan terpisah jauh melewati pulau bahkan benua dalam hati kecil mereka selalu tercatat bahwa mereka selalu mencintai tanah leluhur mereka "Manggarai, Nuk de Nai tana bate dading!".





Senin, 18 September 2017

Bupati Manggarai 2018?




Manggarai.news...Menarik menyimak perkembangan Manggarai akhir-akhir ini. Satu persatu para kandidat yang akan maju ke kancah pertarungan politik Manggarai 2018 mulai melakukan pendekatan-pendekatan yang dibutuhkan dalam mencapai kursi kepemimpinan tertinggi di kabupaten Manggarai.

Mengapa kemudian ini ditulis? Hubungannya? Siapapun yang kemudian menjadi orang nomor satu di kabupaten Manggarai secara langsung dan tidak langsung memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi kemajuan dan menentukan roda Manggarai selama lima tahun kedepan.

Baca Juga: Asal-Usul Manggarai

Tentu saja hal ini berpengaruh besar terhadap kelestarian peninggalan Sejarah, serta bagaimana sang orang Nomor satu tersebut melestarikan Budaya Manggarai yang sangat kaya. Namun meskipun demikian ada beberapa "Pekerjaan Rumah" yang dirasa sangat penting dibereskan oleh sang Pemimpin Manggarai yang terpilih pada tahun 2018. 


Mengembangkan Sarana dan Prasarana Manggarai


Hal ini tentunya akan menentukan perkembangan dan pergerakan roda ekonomi di kabupaten Manggarai. Sarana dan prasarana tentunya sangat dibutuhkan mengingat kabupaten Manggari memiliki topografi yang berbukit-bukit dan sebagaian wilayahnya memiliki curah hujan yang sangat tinggi.

Sarana dan Prasarana yang dimaksud yaitu Jalan raya, sarana komunikasi (pengadaan Internet) bagi masyarakat umum, sarana transportasi umum yang memadai, sarana dan prasarana listrik bagi masyarakat manggarai yang masih 50 %  penduduk wilayahnya tidak menikmati listrik. Sarana dan prasarana pendidikan dan masih begitu banyak sarana dan prasarana yang harus dikembangkan oleh orang nomor satu di Manggarai yang terpilih pada tahun 2018.


Mengembangkan Pertanian di Manggarai


Patut disadari bahwa Manggarai memiliki potensi pertanian yang cukup menjanjikan. Namun sangat disayangkan bahwa pemerintah dalam hal ini tidak memberikan andil yang cukup berarti bagi pengembangan pertanian di Manggarai. Kabupaten Manggarai memiliki potensi yang berbeda dengan dua saudaranya yang masih muda (Manggarai Barat dan Manggarai Timur) Karena Manggarai sangat cocok dikembangkan berbagai varietas tanaman untuk dataran tinggi yang subur, sebut saja Kopi, cengkeh, vanili, berbagai jenis sayuran dan pisang.
Di beberapa tempat di Kabupaten Manggarai telah dikembangkan metode pertanian organik yang dimulai oleh para Biarawan Fransiskan (OFM), semisal di Pagal. Hal ini menjadi salah satu contoh bahwa Manggarai kedepannya jika dikelola dengan baik menghasilkan berbagai tanaman berkualitas eksport yang patut diperhitungkan. Selain itu perlu dikembangkan lagi kearifan lokal dalam mengembangkan saran pertanian. Karena telah terbukti bahwa kearifan lokal masyarakat Manggarai berhasil mendatangkan pengaruh yang sangat besar bagi Masyarakat Manggarai itu sendiri, Contohnya adalah persawahan Cancar.


Mengembangkan Pendidikan dan Kesehatan


Ruteng sebagai ibukota kabupaten Manggarai sudah sejak lama dikenal sebagai kota pelajar bagi seluruh Manggarai Raya. Karena di Ruteng telah terdapat beberapa sekolah yang dikenal cukup baik dalam mendidik para anak didiknya. Namun sangat disayangkan bahwa fasilitas yang disediakan pemerintah belum cukup untuk menampung keseluruhan kebutuhan para pelajar di Ruteng. Sebut saja perpustakaan Umum dan sarana teknologi Informasi dan komunikasi di Ruteng yang jauh dari kesan bersahabat untuk mendukung kebutuhan para pelajar.

Sejak lama kota Ruteng sendiri telah menjadi telah tempat berobat bagi seluruh masyarakat Manggarai Raya. Rumah Sakit Umum Daerah Ruteng dan juga Rumah Sakit Umum Cancar. Fasilitas pendukung sarana kesehatan sangat diperlukan demi terciptanya Masyarakat Manggarai Raya.


Mengembangkan Sektor Pariwisata Manggarai

Waerebo yang terletak di kabupaten Manggarai telah dikenal luas oleh Masyarakat Internasional dan Nasional sebagai destinasi pariwisata yang wajib dikunjungi. Ini membuktikan bahwa khasanah kekayaan budaya Manggarai berhasil menarik minat wisatawan mancanegara dan bahkan mendatangkan keuntungan yang tidak kecil. Hal ini menjadi kekuatan besar yang sudah sewajarnya dimanfaatkan dan dikembangkan dengan baik oleh pemerintah kabupaten Manggarai dengan mengembangkan sarana dan prasarana pendukung. Selain itu juga sebagai sarana untuk mempromosikan wisata kabupaten Manggarai lainnya yang sebenarnya tidak kalah jauh menarik dari Kampung adat waerebo, semisal Gua Arkeologi Liang Bua, Pantai di wilayah Reo dan Satarmese, wilayah persawahan Cancar dan masih banyak lagi tempat-tempat pariwisata lainnya.

Sabtu, 16 September 2017

Asal-Usul Manggarai



Manggarai.news...Beberapa orang sering bertanya-tanya mengenai asal-usul nama Manggarai. Bagi orang yang sama sekali awam tentang sejarah tentunya hal ini cukup membingungkan. Karena ada dua tempat yang memiliki kesamaan nama; dalam hal ini Manggarai yang adalah salah satu kabupaten di Provinsi NTT dan juga Manggarai yang berada di Jakarta.

Yang Membuat hal ini semakin buruk ialah adanya salah pandangan bahwa Manggarai Jakarta lebih dahulu usianya dibandingan dengan Manggarai yang berada di pulau Flores. Bukan sekali duakali malah seringkali hal ini ditemukan. Walaupun demikian terlepas dari adanya dua tempat yang memiliki kesamaan nama, dua tempat ini sejatinya memiliki hubungan sejarah yang sangat unik. Sejarah dua Manggarai dari sudut pandang sejarah. Mengenai asal usul Nama Manggarai Jakarta akan dimuat pada tulisan selanjutnya.

Manggarai; merupakan salah satu kabupaten yang terletak di sebelah barat pulau flores Nusa Tenggara Timur. Dulunya merupakan satu kabupaten besar kemudian demi kelancaran administrasi kemudian wilayah Manggarai Timur dan Wilayah Manggarai membentuk kabupaten masing-masing dengan nama kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Manggarai Barat. Hal menarik dari peristiwa tersebut adalah bahwa kedua kabupaten ini tetap menyematkan nama Manggarai sebagai tanda identitas; identitas budaya yang sudah mendarah daging.


Studi mendalam tentang asal-usul nama Manggarai dilakukan oleh salah seorang budayawan dan sejarahwan asal Manggarai Dami N. Toda yang juga beliau meneliti tulisan-tulisan para peneliti terdahulu seperti Pater Jilis A. Verheijen.SVD sang pionir Homo Florensiensis. Dalam buku-buku yang beredar di sekolah-sekolah ditulis bahwa Manggarai berasal dari dua suku kata bahasa Bima Mangga yang berarti "Sauh" dan kata "Rai" yang berarti Putus. Hal ini terjadi saat ekspansi kerajaan Bima yang dipimpin oleh panglima kerajaan Bima Mangga Maci didampingi tiga saudaranya (Nanga Lere, Tulus Kuru, dan Jenaili-Woha)  ke wilayah Manggarai. Saat ekspansi tersebut pasukan Cibal yang menguasaai pelabuhan Kedindi (Reo) menyerang dan memutus tali sauh Kapal Mangga Maci. Mangga Maci pun berteriak Manggarai!!! (arti harafiahnya "Sauh Putus!!!!").

Dami N. Toda menolak bahwa nama Manggarai berasal dari suku kata bahasa Bima. Dami berpendapat bahwa nama Manggarai sudah ada jauh sebelum ekspansi Kerajaan Bima ke Manggarai. Dengan bukti bahwa:

  1.  Menurut naskah Achmad/Held pelayaran Kerajaan Bima berlansung pada bulan Maret 1845 dengan tujuan pelabuhan Kedindi (Reo) yang dipimpin oleh Jurubicara Bima Muhammad Yakub dan Bumi Luma Rasanae dengan tugas utama untuk memanggil Naib Reo (penguasa wilayah Reo) dan Naib Pota (penguasa wilayah Pota) dengan tugas tambahan membawa serta  “tatarapang” (keris tanda kekuasaan). Dan naas saat berlabuh di pelabuhan kedindi (tercatat tanggal 20 Maret 1845 iringan kapal tersebut terkena hempasan angin barat daya yang sangat kencang. Hal ini menimbulkan kepanikan namun tidak tercatat adanya teriakan Manggarai!!! dalam peristiwa tersebut.
  2. Manggarai di Jakarta sendiri sudah berada sejak tahun 1770 ( Rachmat; penulis buku "Asal-usul nama tempat di Jakarta). Tentu saja umurnya jauh lebih tua dari ekspedisi kerajaan Bima ke Manggarai.


Dami N. Toda berpendapat bahwa Nama Manggarai sudah ada lebih tua sebelumnya. Beliau mengangkat salah satu peristiwa pada tahun 1626 yang dicatat oleh seorang Belanda. saat itu penguasa Rinca menerima kedatangan seorang Raja Kerajaan Tallo yang bernama Mangarangi. Saat peristiwa tersebut penguasa Rinca mengakui Mangarangi sebagai Raja dan penguasa Rinca sebagai Wakil, semenjak itulah wilayah flores bagian barat disebut Manggarai.


Tentu saja masih dibutuhkan penelitian mendalam tentang asal-usul nama Manggarai, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa penelitian dan tulisan Dami N. Toda sejauh ini merupakan salah satu penelitian yang paling bisa dipakai. Hal ini sangat penting dilakukan agar menambah wawasan budaya kita tentang Manggarai.

Kamis, 14 September 2017

Kopi Colol: Go Internasional namun disepelekan Pemerintah Lokal.



Manggarai.news... Colol, sebuah perkampungan yang terletak di Kecamatan Poco Ranaka Kabupaten Manggarai Timur merupakan salah satu tempat penghasil kopi Arabika (Coffea arabica) yang terkenal, bahkan saking terkenalnya warna negara asing lebih mengenal kopi Colol dibandingkan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya yang lebih akrab dengan istilah Kopi Flores (dalam hal ini Kopi Bajawa). Miris memang.

Colol sendiri terletak di punggung bukit Golo Racap kaba, sebuah perbukitan yang cantik menawan diselingi dengan aliran air sungai yang indah. Seringkali Luwak mengluarkan kotoran di pinggir sungai tersebut sehabis memakan kopi yang menghasilkan  Kopi Luwak yang sama sekali tidak dipedulikan hingga beberapa dekade terakhir baru mulai dikumpulkan. Tak heran jika suhu udara di Colol sendiri tergolong cukup dingin. Perbukitan Golo Racap Kaba memisahkan Colol dan Waling dan keduanya memiliki sejarah kekerabatan yang telah terjalin sangat lama dan secara geografispun keduanya memiliki kemiripan topografi. Kopi Colol secara umum masih diolah secara tradisional, namun tidak dapat dipungkiri bahwa citarasa dari Kopi Colol sudah dikenal dimana-mana.

Kopi Colol di Zaman Cultuurstelsel



Kebijakan Cultuurstelsel (Sistem tanam paksa) pada zaman kolonialisme membawa dampak positif bagi masyarakat Colol. karena kopi yang ditanam melalui program Cultuurstelsel inilah yang membawa masyarakat Colol menjuarai sayembara Keboen Kopi pada tahun 1937. Dan karena itu pemerintah Kolonial Belanda memberikan penghargaan kepada masyarakat Colol atas pencapaian mereka. Dan Semenjak saat itu Kopi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Kebudayaan masyarakat Manggarai.

Baca Juga: Perang Dunia II di Flores

Pada Zaman pendudukan Jepang kopi Colol terbengkalai selain karena Jepang hanya menyentuh bumi Manggarai dalam waktu singkat namun berhasil mengusir orang-orang Belanda yang notabene sudah mencintai kopi Colol.

Namun satu hal yang patut disyukuri bahwa dengan kehadiran Gereja Katolik di bumi Manggarai memberikan dampak yang cukup luas walaupun secara tidak langsung terhadap Kopi Colol. Melaui sistem pendidikan Gereja Katolik berhasil mendidik warga Colol dalam menimba ilmu dan menambah wawasan untuk mempelajari tentang cara mengolah kopi. Dan patut dicatat bahwa beberapa Pastor Eropa yang bertugas di bumi Manggarai memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap budidaya kopi, hal ini yang membuat "Kopi Tuang" (Kopi Pastor) menjadi tanaman favorit di Manggarai.

Minimnya dukungan Pemerintah Manggarai.


Semenjak Zaman kemerdekaan hingga kini para petani kopi Colol seakan berjuang dan bertahan hidup sendiri. Pemerintah daerah Manggarai tidak menciptakan iklim yang membuat para petani kopi Colol berkembang. Dukungan pemerintah daerah dalam hal ini hampir samasekali tidak ada, baik dari segi sarana, prasarana, pendidikan petani, pendistribusian hasil panen kopi. Kopi Colol yang sebegitu berkualitasnya justru jatuh ke tangan para penadah kopi yang mematikan pasar dan memaksa para petani melepas kopinya dengan harga sangat murah, kemudian para penadah kopi menjual kembali kopi Colol tersebut dengan harga selangit di pasar kopi nasional. Hal inilah yang melahirkan kaum borjuis baru di tanah Manggarai, dan sekali lagi pemerintah daerah seakan tidak tahu apa-apa. Petani Kopi colol semakin hidup dalam keterpurukan. Hal ini yang membuat anak-anak muda Manggarai memiliki pandangan bahwa profesi sebagai petani kopi merupakan sebuah profesi yang tidak dianggap.

Bajawa yang terlambat bahkan belajar dari para petani Manggarai justru maju begitu pesat. Mulai dari persiapan lahan, pengolahan lahan, penanaman, hingga distribusi dan pemasaran dilakukan dengan cukup profesional membuat "Kopi Flores Bajawa" menjadi salah satu "Single Origin Wajib" di hampir semua Coffeeshop.

Penderitaan para petani Kopi Colol ini semakin lengkap ketika kejadian Rabu berdarah 10 Maret 2004. Saat itu Colol masih termasuk kedalam pemerintaan kabupaten Manggarai dan bupati dijabat oleh Anthony Bagul Dagur. Berawal dari pemerintah membabat perkebunan petani kopi Colol dengan alasan "Melanggar batas hutan" yang berakibat 162 kepala keluarga di Colol kehilangan kebun kopi seluas kurang lebih 1.000 hektar. Protes dan usaha yang dilakukan berujung pada kematian enam petani kopi Colol.

Kopi Colol Saat ini.


Seiring dengan perkembangan Zaman terlebih perkembangan teknologi komunikasi membawa beberapa perubahan penting. Kopi Colol yang sempat tenggelam dibawah nama besar "Kopi Bajawa" pelan-pelan timbul ke permukaan. Munculnya beberapa Coffeeshop di Ruteng ibukota kabupaten Manggarai perlahan-lahan membawa pesan bahwa kopi colol merupakan sesuatu yang unik dan tiada duanya. Beberapa anak muda mulai menjual kopi asli Colol dalam bentuk kemasan dan mendistribusikannya melalui media sosial.

Perlahan-lahan kopi Colol mencuat ke permukaan dan mendapat nama. Fenomena ini tentu saja merupakan suatu hal yang harus diapresiasi dengan baik, terlebih setelah Manggarai Timur membentuk kabupaten sendiri dan Colol secara administrasi masuk ke dalam kabupaten Manggarai Timur. Kita semua selalu berharap agar pengelolaan, pendistribusian serta pemasaran (branding) Kopi Colol semakin hari semakin mengangkat derajat hidup masyarakat Colol.


Coup De Grace


Kopi colol memiliki sejarah yang cukup panjang, kopi arabika Colol yang begitu melegenda, dengan aroma dan ciri khasnya. Kopi Colol pernah dihargai pemerintah Kolonial Belanda, dicuekin penjajah  Jepang, dan diinjak-injak hingga berdarah oleh perintah daerah, dan kini dalam geliatnya Kopi colol mulai coba bangun dan berkembang. Mungkin anda dan saya merupakan salah satu dari sekian banyak penikmat kopi, tak ada salahnya memberikan sedikit sentuhan kepada kopi Colol entah dalam bentuk apapun, agar para petani di Colol tetap merasa bangga memetik kopi yang dipanen diatas bumi, tanah tumpah darah mereka.


Jakarta,,,


Kamis 14 September 2007


Barista Lebay