Kamis, 14 September 2017

Kopi Colol: Go Internasional namun disepelekan Pemerintah Lokal.



Manggarai.news... Colol, sebuah perkampungan yang terletak di Kecamatan Poco Ranaka Kabupaten Manggarai Timur merupakan salah satu tempat penghasil kopi Arabika (Coffea arabica) yang terkenal, bahkan saking terkenalnya warna negara asing lebih mengenal kopi Colol dibandingkan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya yang lebih akrab dengan istilah Kopi Flores (dalam hal ini Kopi Bajawa). Miris memang.

Colol sendiri terletak di punggung bukit Golo Racap kaba, sebuah perbukitan yang cantik menawan diselingi dengan aliran air sungai yang indah. Seringkali Luwak mengluarkan kotoran di pinggir sungai tersebut sehabis memakan kopi yang menghasilkan  Kopi Luwak yang sama sekali tidak dipedulikan hingga beberapa dekade terakhir baru mulai dikumpulkan. Tak heran jika suhu udara di Colol sendiri tergolong cukup dingin. Perbukitan Golo Racap Kaba memisahkan Colol dan Waling dan keduanya memiliki sejarah kekerabatan yang telah terjalin sangat lama dan secara geografispun keduanya memiliki kemiripan topografi. Kopi Colol secara umum masih diolah secara tradisional, namun tidak dapat dipungkiri bahwa citarasa dari Kopi Colol sudah dikenal dimana-mana.

Kopi Colol di Zaman Cultuurstelsel



Kebijakan Cultuurstelsel (Sistem tanam paksa) pada zaman kolonialisme membawa dampak positif bagi masyarakat Colol. karena kopi yang ditanam melalui program Cultuurstelsel inilah yang membawa masyarakat Colol menjuarai sayembara Keboen Kopi pada tahun 1937. Dan karena itu pemerintah Kolonial Belanda memberikan penghargaan kepada masyarakat Colol atas pencapaian mereka. Dan Semenjak saat itu Kopi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Kebudayaan masyarakat Manggarai.

Baca Juga: Perang Dunia II di Flores

Pada Zaman pendudukan Jepang kopi Colol terbengkalai selain karena Jepang hanya menyentuh bumi Manggarai dalam waktu singkat namun berhasil mengusir orang-orang Belanda yang notabene sudah mencintai kopi Colol.

Namun satu hal yang patut disyukuri bahwa dengan kehadiran Gereja Katolik di bumi Manggarai memberikan dampak yang cukup luas walaupun secara tidak langsung terhadap Kopi Colol. Melaui sistem pendidikan Gereja Katolik berhasil mendidik warga Colol dalam menimba ilmu dan menambah wawasan untuk mempelajari tentang cara mengolah kopi. Dan patut dicatat bahwa beberapa Pastor Eropa yang bertugas di bumi Manggarai memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap budidaya kopi, hal ini yang membuat "Kopi Tuang" (Kopi Pastor) menjadi tanaman favorit di Manggarai.

Minimnya dukungan Pemerintah Manggarai.


Semenjak Zaman kemerdekaan hingga kini para petani kopi Colol seakan berjuang dan bertahan hidup sendiri. Pemerintah daerah Manggarai tidak menciptakan iklim yang membuat para petani kopi Colol berkembang. Dukungan pemerintah daerah dalam hal ini hampir samasekali tidak ada, baik dari segi sarana, prasarana, pendidikan petani, pendistribusian hasil panen kopi. Kopi Colol yang sebegitu berkualitasnya justru jatuh ke tangan para penadah kopi yang mematikan pasar dan memaksa para petani melepas kopinya dengan harga sangat murah, kemudian para penadah kopi menjual kembali kopi Colol tersebut dengan harga selangit di pasar kopi nasional. Hal inilah yang melahirkan kaum borjuis baru di tanah Manggarai, dan sekali lagi pemerintah daerah seakan tidak tahu apa-apa. Petani Kopi colol semakin hidup dalam keterpurukan. Hal ini yang membuat anak-anak muda Manggarai memiliki pandangan bahwa profesi sebagai petani kopi merupakan sebuah profesi yang tidak dianggap.

Bajawa yang terlambat bahkan belajar dari para petani Manggarai justru maju begitu pesat. Mulai dari persiapan lahan, pengolahan lahan, penanaman, hingga distribusi dan pemasaran dilakukan dengan cukup profesional membuat "Kopi Flores Bajawa" menjadi salah satu "Single Origin Wajib" di hampir semua Coffeeshop.

Penderitaan para petani Kopi Colol ini semakin lengkap ketika kejadian Rabu berdarah 10 Maret 2004. Saat itu Colol masih termasuk kedalam pemerintaan kabupaten Manggarai dan bupati dijabat oleh Anthony Bagul Dagur. Berawal dari pemerintah membabat perkebunan petani kopi Colol dengan alasan "Melanggar batas hutan" yang berakibat 162 kepala keluarga di Colol kehilangan kebun kopi seluas kurang lebih 1.000 hektar. Protes dan usaha yang dilakukan berujung pada kematian enam petani kopi Colol.

Kopi Colol Saat ini.


Seiring dengan perkembangan Zaman terlebih perkembangan teknologi komunikasi membawa beberapa perubahan penting. Kopi Colol yang sempat tenggelam dibawah nama besar "Kopi Bajawa" pelan-pelan timbul ke permukaan. Munculnya beberapa Coffeeshop di Ruteng ibukota kabupaten Manggarai perlahan-lahan membawa pesan bahwa kopi colol merupakan sesuatu yang unik dan tiada duanya. Beberapa anak muda mulai menjual kopi asli Colol dalam bentuk kemasan dan mendistribusikannya melalui media sosial.

Perlahan-lahan kopi Colol mencuat ke permukaan dan mendapat nama. Fenomena ini tentu saja merupakan suatu hal yang harus diapresiasi dengan baik, terlebih setelah Manggarai Timur membentuk kabupaten sendiri dan Colol secara administrasi masuk ke dalam kabupaten Manggarai Timur. Kita semua selalu berharap agar pengelolaan, pendistribusian serta pemasaran (branding) Kopi Colol semakin hari semakin mengangkat derajat hidup masyarakat Colol.


Coup De Grace


Kopi colol memiliki sejarah yang cukup panjang, kopi arabika Colol yang begitu melegenda, dengan aroma dan ciri khasnya. Kopi Colol pernah dihargai pemerintah Kolonial Belanda, dicuekin penjajah  Jepang, dan diinjak-injak hingga berdarah oleh perintah daerah, dan kini dalam geliatnya Kopi colol mulai coba bangun dan berkembang. Mungkin anda dan saya merupakan salah satu dari sekian banyak penikmat kopi, tak ada salahnya memberikan sedikit sentuhan kepada kopi Colol entah dalam bentuk apapun, agar para petani di Colol tetap merasa bangga memetik kopi yang dipanen diatas bumi, tanah tumpah darah mereka.


Jakarta,,,


Kamis 14 September 2007


Barista Lebay




EmoticonEmoticon